Rabu, 21 Oktober 2015
Mungkin, saat ini kau sedang berbahagia disana tanpa
kau tahu aku disini terpuruk karena kepergianmu. Kepergian yang dimulai dari
semua sosmed yang tak lagi kulihat. Kini kau telah pergi dari hidupku, entah
sampai kapan aku merasakan ini siksaan untukku. Lebay memang tapi ini yang kurasakan saat kutahu kau tak
ingin sedikitpun ada aku dalam hidupmu. Kamu tidak akan pernah tahu betapa
tersiksanya aku saat twitter kamu unfollow, line-ku kamu block, path-ku kamu
unfriend, ig-ku pun kamu unfriend, bbm-ku kamu dc. Semua yang berhubungan
denganku kamu delete. Kamu tidak akan pernah mengerti betapa dadaku sesak
setiap memikirkanmu. Kamu tidak akan pernah menyadari betapa rindu didadaku layaknya
gajah yang memberontak keluar kandang meskipun dia tahu bahwa dunia luar
tidaklah aman untuk sang gajah. Meskipun aku tau kau tak pernah mengerti rasa sesak yang kurasakan.
Berhari-hari bahkan lebih dari 30hari, aku berusaha
mengisi waktu luangku dengan apapun yang bisa kukerjakan agar aku tak punya
waktu sedikit saja untuk mengingatmu. Karena kamu sudah begitu lekat berada
dipiikiranku, karena kamu sudah mempunyai tempat tetap disana; dihatiku yang
nyatanya belum dihuni orang lain selain dirimu. Dan, aku pun belum menemukan
cara terbaik untuk menghilangkanmu dari hati dan pikiranku, kamu selalu
teringat kembali saat aku berusaha untuk mengusirmu pergi dari pikiranku. Entahlah,
mungkin memang kamu diciptakan untuk tetap tinggal, meskipun sebenarnya
kebersamaan aku dan kamu memang tak pernah lagi ada.
Aku memaksa diriku untuk tidak selalu kepo terhadap
apa yang kamu lakukan setiiap harinya, aku melawannya setiap kali aku ingin
mengestalk sosmedmu melalui akun orang lain. Nyatanya aku menyerah, aku tidak bisa untuk tidak
mencari tahu apa yang kamu lakukan, dengan siapa, bagaimana keadaanmu hari ini,
aku menyerah untuk tidak mencari tahu itu. Kamu memang telah melekat dengan
lekat dipikiranku tanpa ada ruang kosong untuk tak memikirkanmu. Sungguh, aku
tersiksa dengan semua ini. Tidakkah kau sadar? Tega kah lelaki sepertimu yang
kukenal baik membuatku seperti ini?
Salahkah aku jika ini berlebihan, tapi aku tidak
bisa menahan diri untuk tidak berhenti memikirkanmu, mencari tahu tentangmu,
menstalkmu, menghapusmu dari hati dan pikiranku. Sungguh aku tidak bisa menahan
diri untuk berhenti mencintaimu. Ya, pada kenyataannya bahwa aku sangat
menyayangi dan mencintaimu sampai saat ini. Aku telah kehilangamu saat ini
sebelum aku sempat menghapus dulu rasa cintaku denganmu.
Memang, tulisan ini tidak penting, hanya berisi tangis seorang
gadis berumur belasan tahun yang menangisi kepergian sosok lelaki yang ia
cintai. Lalu, bagaimana caranya aku mengobati semua lukaku jika kamu tidak akan
pernah kembali lagi untuk sekedar mengobati perihku? Aku pun ingin terbebas
dari semua ini, ingin melupakanmu, tapi saat aku menyadari bahwa bersamamu
sangatlah membuatku bahagia dan menyenangkan, rasanya sulit untuk melupakanmu. Aku
pun ingin menjauh dari semua bayang bayangmu, tapi diriku selalu menginginkamu
untuk kembali, mataku hanya bisa melihat semua foto yang kita selalu lakukan
saat bersama sama.
Aku sungguh mencintaimu dan rasanya sulit menerima
kenyataan bahwa kita sudah tak lagi bersama, tak lagi bisa berbagi cerita
tentang keseharian kita, masalah masalah kita, dan sulit menerima kenyataan
bahwa kau tak ingin kembali bersamaku.
Mungkin ini yang dinamakan sakit, rasa yang benar benar
menyakitkan. Hati yang benar-benar teriris layaknya diiris pisau yang sangat
tajam. Kamu boleh bilang aku bodoh bahkan tolol sejak menjalin hubungan
denganmu, aku memang merasa makin bodoh dan tolol. Kamu membutakan semua dan
menggelapkan pandanganku tentang cinta. Aku mencintaimu dan aku tak tahu
mengapa saat bersamamu membuatku merasa ingin pulang ke arahmu, meskipun
harusnya aku sadar bahwa dari dulu kamu bukanlah tempat pulang yang tepat
untukku.
Disini, aku rapuh saat kau telah bersama yang lain. Tapi,
aku masih mampu menjalani hidupku sendiri meskipun aku terus mengingatmu
kembali dan berkali-kali aku teringat padamu. Semua memang tak mudah, aku mulai
merangkak dan berjalan sendiri. Aku mencari duniaku lagi, membangun semua dari
awal lagi dan membiasakan diri untuk melangkah tanpa semangat darimu, bisikkan
cerita keseharianmu. Sungguh, ini sangat beraat bagii, entah bagaimana bagimu?
Mungkin, sampai sekarang kamu tak akan pernah tahu bagimana
hancurnya aku, bagimana aku berjuang mati-matian untuk mengembalikkan diriku
yang dulu saat aku belum menjalin hubungan denganmu dan belum mengenalmu. Dan kemungkinan,
kamu juga tak akan peduli bagaimana aku mengobati lukaku sendirian. Tentu kamu
disana tengah berbahagia dengan wanita yang baru kau miliki itu, kamu tak akan
perduli dengan perempuann yangpernah menghabiskan waktunya demi bisa bersamamu.
Kalau boleh jujur, aku sangat tersiksa dengan semua ini. Kamu
tak tahu rasanya ditinggalkan saat sedang cinta-cintanya, mungkin sosok keras
kepala sepertimu hanya mempercayai apa yang kau pikir itu benar dan kau pikir
aku tak pernah terluka karena sikapmu.
Aku cukup berada disini, jadi penonton dari jauh. Yang hanya
melihatmu dari sosial media, menstalk semua media sosialmu. Melihatmu berbagi
ceritamu dengannya, diposisi itu sudah bukan aku, bukan aku yang dulu selalu
ada untukmu dan menjadi pendengar setiap kejadian keseharianmu.
Terimakasih atas 2 tahun yang berkesan, menyenangkan,
sekaligus menciptakan ketakutan yang luar biasa untuk kehilanganmu. Terimakasih
untuk pelukan yang hangat dan kenangan yang sempat membuatku percaya bahwa ini
semua cinta sejati. Terima kasih pernah membuatku tertawa sampai tak henti
walau ini hanya sesaat. Terimakasih untuk segala hal yang bisa membuatku cukup
bahagia saat bersama denganmu.
;;
Subscribe to:
Komentar (Atom)

