Rabu, 15 Agustus 2012

Classicious (The Short Story)


Classicious (The Short Story)

Dan gue tahu bahwa banyak cerita gue yang kaya gini --"

Kisah yang teramat klasik hingga tampak begitu kusam dan berdebu. Sudah lama aku mencoba menutup lembaran-lembaran lusuh itu dalam-dalam agar tidak terungkap kembali meski nyatanya aku tidak bisa menyembunyikannya, hingga detik ini. Karena seberapa dalam aku memendamnya, aroma kenangan yang terhirup selalu tampak manis dan menggoda. Dan sejauh apa pun dia denganku, ia masih saja memenuhi hatiku.

Saat aku harus bertemu dengannya lagi, aku harus bagaimana?

^_^

“Cinta adalah sebuah perasaan menyukai, menyenangi, sekaligus menyayangi seseorang. Itu menurut kamus ini.“ Sivia mengacungkan kamus besar bersampul cokelat tua dengan kedua tangannya.

“Apa aku benar-benar mencintainya?“ Agni bertanya lirih. Sivia menatap Agni sebentar sebelum mengembalikan kamus di tangannya ke dalam rak. Sivia menyentuh pundak Agni dan menepuknya dengan pelan.

“Tanyakan pada hatimu sendiri cintakah kamu padanya. Karena jawabannya hanya kamu miliki sendiri.“ Sivia tersenyum ramah.

“Ya. Mungkin aku memang benar mencintainya.“ Agni menyeret kursi di dekatnya dan mendudukinya. Sivia mengikuti Agni sambil melirik Agni yang memandang ke sudut kanan belakang perpustakaan. Sivia tersenyum kecil.

“Sebentar lagi lulus. Jadi, kamu harus menyampaikan perasaanmu sebelum benar-benar berpisah.“ Agni menoleh ke arah Sivia yang tengah tersenyum menatapnya.

“Haruskah?“ Sivia mengangguk pasti.

“Apa kamu mau terus-terus memendam perasaanmu? Apa kamu tidak lelah? Apa artinya setahun ini kalau kamu tidak mau menyampaikan perasaanmu, hanya akan berakhir sia-sia.“ Sivia berdiri dari duduknya dan berjalan ke rak bagian novel, mungkin ada novel baru. Ia meninggalkan Agni yang terdiam dan masih memandang sudut kanan belakang tanpa beralih.

“Aku tidak mau menikmati perasaanku seorang diri. Dan aku memang lelah. Tapi aku tahu, cinta tidak pernah sia-sia.“ Agni mengembalikan kursinya pada tempatnya dan berjalan menuju sudut kanan belakang yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya, ia tersenyum tenang.

0_0

“Aku sedang berusaha. Doakan aku ya!“ Cakka dan Agni berjalan beriringan menuju koridor kelas.

“Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk teman-temanku.“ Kata Agni tenang.

“Kamu benar-benar yakin dengan yang sekarang?“ Tanya Agni setelah berbelok ke koridor menuju kelas mereka.

“Sebenarnya aku belum yakin. Tapi, aku terlanjur pesimis dengan Ify karena dia sepertinya hanya menganggapku sebagai kakak.“ Aku Cakka jujur, ia memang selalu berusaha jujur pada Agni apa pun dan bagaimana pun tanggapan Agni. Baginya, ia memang membutuhkan pendengar dan yang seperti Agni adalah pendengar yang hebat karena siap mendengarkan segala hal tentang Cakka tanpa cela.

“Aku sudah pernah mengatakan padamu, jangan banyak pilihan. Tentukan satu dan yakin. Karena semakin lama akan semakin banyak yang terluka. Kalau kamu memang tidak yakin dengan Ify ya udah, sekarang tinggal kamu meyakinkan perasaanmu pada Shilla.“ Agni menyentuh pundak Cakka, Cakka yang menoleh menatap Agni sambil tersenyum.

“Dia memberimu harapan, kan?“ Agni duduk di depan Cakka begitu mereka sampai di kelas yang masih sepi.

“Iya. Dan Ify juga pernah memberiku harapan. Harapan palsu, mungkin,“ Agni menatap Cakka yang menunduk dengan dalam. Teman yang sudah dianggapnya sahabat ini memang kacau soal cinta.

“Tapi, aku merasa kalau Shilla tidak seperti itu. Dia memberiku harapan yang lebih banyak.“ Cakka mendongak, Agni mendapati mata Cakka yang bening menyorotkan sebuah semangat, dan Agni tahu apa artinya.

“Semangat ya. Aku akan berada di belakangmu dan mendukungmu serta mendoakanmu karena hanya itu yang kumampu.“ Agni tersenyum tipis.

“Thanks ya.“ Cakka menyentuh permukaan tangan Agni, mereka tersenyum kecil bersamaan. Agni merasa lega.

0_0

“Hari ini dia cerita lagi?“ Sivia duduk di samping Agni sambil berbisik. Agni menggeleng.

“Dia cuma mengatakan kalau dia sudah hampir yakin dengan pilihannya.“ Agni mengeluarkan buku kimia dari dalam tasnya lalu menatap Sivia yang sepertinya ingin berkomentar tapi tetap diam.

“Jadinya, Shilla atau Ify?“ Tanya Sivia pada akhirnya.

“Shilla. Menurutnya, Ify sejauh ini hanya menganggapnya sebagai kakak.“ Sivia menyentuh pundak Agni. Agni yang sedang mencoba mengerjakan soal terpaksa menatap Sivia.

“Dia memang tidak peka,“ Agni mengangguk setuju.

“Dia memang benar-benar bodoh.“ Lanjut Sivia dengan sebal.

“Sudahlah.“ Agni menyingkirkan tangan Sivia dari pundaknya dan mulai berkonsentrasi mengenai tetapan kesetimbangan yang membuatnya hampir tidak setimbang.

“Aku meminta dia untuk memutuskan satu dan yakin pada pilihannya. Dan semoga saja bahwa pilihannya tidak salah. Aku takut ketika dia harus kecewa lagi.“ Agni menyerah. Terpaksa ia menatap Sivia yang tengah asik dengan buku sketsanya.

Sivia menaruh buku sketsa yang baru saja disentuhnya itu. Ia menatap Agni dengan dalam. Ia ingin mengatakan apa yang sebenarnya ada dalam perasaannya melalui tatapan matanya. Menurutnya, sahabat akan mengerti tanpa perlu banyak kata. Ia akan mengerti kita seperti kita yang mengerti dia.

“Aku akan ada untukmu.“ Agni mengangguk pasti.

Sivia kembali meraih buku sketsanya dan menekuni hobi barunya. Sedangkan Agni kembali menekuni soal-soal kimia yang berusaha ditaklukannya. Meski ia tahu, menaklukkan soal kimia lebih mudah dari pada menaklukkan hati yang tidak peka.

“Sebentar lagi ujian. Belajar dong, gambar mulu sih.“ Sivia hanya tersenyum kecil dan tak acuh. Nanti dulu deh, pikirnya.

0_0

“Shilla itu ternyata cewek yang biasa, lucu, simple, tapi menarik. Aku harus mendapatkannya.“ Cakka bercerita pada Agni dengan semangat. Agni mengangguk-angguk mendengarkan.

“Dia memberiku banyak harapan. Aku setengah yakin kalau itu bukan harapan semu. Ya, walaupun aku harus mendapatkan bekasnya Rio, tapi tak apalah.“ Lanjut Cakka masih bersemangat.

“Bekas? Orang belum jadi udah bekas aja.“ Agni terkekeh ringan.

“Ya, intinya kan Rio pernah suka sama Ify dan Shilla. Kalau Rio tak bisa memiliki keduanya, aku cukup memiliki satu dari mereka.“ Cakka memamerkan deretan giginya yang rapi sambil tersenyum lebar, sepertinya memang sedang bahagia.

“Sepertinya kamu benar-benar bahagia.“ Komentar Agni pendek, ia mengamati hari ini Cakka memang tampak lebih bahagia.

“Ya, terlebih ketika Shilla bisa kumiliki. Tapi aku bingung,“ Raut muka Cakka seketika berubah. Ia memandang langit-langit kelas dengan kosong.

“Kalau aku mengatakan mencintainya di akhir masa SMAku, apa dia mau menerimaku? Maksudku, apa ia bisa menerimaku yang akan jauh darinya? Aku kan harus kuliah ke luar kota.“ Cakka menatap Agni meminta jawaban. Namun, seketika Agni memalingkan wajah. Ia tidak suka ditatap Cakka dengan cara seperti itu.

“Entahlah. Cewek tak suka LDR karena mereka cenderung tidak percaya. Lagipula, kalau kamu cuma main-main dan tidak serius, lebih baik jangan. Akan ada yang terluka ketika kamu melakukannya.“ Cakka mengangguk. Ia mengerti.

“Tapi aku sudah mencintainya.“

“Ungkapkan kalau begitu. Apa pun hasilnya, kamu harus sudah siap. Yang penting kamu tahu perasaannya.“ Agni yang mengatakannya merasa tertampar ucapannya sendiri. Seharusnya ia juga seperti itu, melakukannya.

“Ya, aku juga tidak mau perasaanku hanya milikku sendiri tanpa terungkap. Aku ingin dia juga mengetahui apa pun jawabannya.“ Cakka yakin dan mantap dalam perkataannya.

“Jadi pengen cepetan ujian kalau begini.“ Cakka mendesah pelan, ada perasaan lega.

“Iya, libur, ujian seleksi masuk universitas, kuliah deh.“

“Biar cepetan nembak dia.“ Agni mengangguk-angguk, mengiyakan Cakka.

0_0

Hari ini, Sivia, Agni, Cakka, dan Alvin memilih untuk makan-makan terlebih dahulu sebelum pulang. Mereka bilang ingin merayakan kelulusan yang mereka dapatkan. Setidaknya, mereka akan melengkapi masa akhir putih abu-abu yang sekarang memang sudah benar-benar berakhir. Meskipun persahabatan mereka tiada akhir.

“Akhirnya kita sampai di batas ini.“ Agni membuka suara.

“Rasanya sedikit lega. Ya, walaupun masih ada satu tahapan lagi, tapi setidaknya kita sudah menanggalkan putih abu-abu.“ Imbuh Sivia.

“Ada perasaan bahagia tapi kecewa tetap ada.“ Hening. Cakka sepertinya akan memonopoli pembicaraan.

“Semalam aku nembak Shilla.“ Masih hening.

“Dan aku ditolak. Haha.“ Cakka tertawa garing. Sivia dan Agni saling berpandangan, sedangkan Alvin diam saja karena dia memang sudah tahu. Cakka menelponnya semalam hingga akhirnya Alvin tidur sebelum Cakka menutup telepon.

“Kamu baik-baik aja kan, Kka?“ Agni yang paling khawatir.

“Tentu saja.“ Jawab Cakka yakin dan diakhiri tawa yang lebih keras.

“Sakit sih, tapi ya, udah risiko. Mau gimana lagi. Dia bilang kalau dia hanya menganggapku sebagai kakak. Selama ini hanya harapan palsu belaka ternyata. Dan aku udah siap, jadi tak apa-apa.“

“Ada yang menunggumu, tanpa memberi harapan karena dia sudah percaya padamu.“ Agni menyenggol lengan Sivia.

“Maksudnya?“ Cakka mengangkat alis dengan bingung, ia tidak mengerti apa maksudnya.

“Makanya peka dikit dong jadi cowok.“ Sivia memukul kepala Cakka dengan sumpit.

Agni, Alvin, Sivia, dan Cakka tertawa bersama. Mungkin ini tidak akan mereka temukan lagi di masa depan nanti.

“Aku mencintaimu, Ag.“ Alvin yang sedari tadi diam kini membuat suasana menjadi hening kembali. Agni menatap Alvin tidak percaya.

“Selama ini kamu selalu terpaku pada seseorang hingga tak bisa melihatku. Tapi aku tidak mau terlambat.“ Sivia tersedak, ia buru-buru minum.

“Tapi aku,“ Agni menatap Alvin. Sungguh, ia tidak pernah memikirkan ini akan ada. Ini di luar skenario.

“Aku tak bisa, Vin. Aku menyayangimu, sahabatku. Maafkan aku.“ Alvin menyentuh jemari Agni dan mengecupnya.

“Aku tahu.“ Alvin mengacak rambut Agni.

“Hey, kenapa masih hening? Aku hanya mengungkapkan perasaanku. Ayo rame lagi!“

0_0

“Kapan kamu akan mengatakan padanya? Apa kamu akan benar-benar membiarkan perasaanmu menjadi sia-sia karena tak kamu ungkapkan?“ Sivia membantu Agni memasukkan barang-barang dalam koper.

“Aku tahu bahwa tidak ada yang sia-sia karena cinta. Mungkin bukan sekarang waktunya.“ Agni memasukkan barang-barang kecilnya lalu menutup kopernya.

“Kapan?“ Sivia meragukan.

“Nanti, saat kita bertemu kembali.“ Jawab Agni pasti.

“Mungkin saat itu dia akan menganggapku sebagai teman biasa. Mungkin juga dia telah melupakan semua arti perhatianku yang tak pernah dia sadari selama ini, mungkin dia tidak akan pernah mengerti arti hal-hal kecil yang kulakukan dalam hidupnya, mungkin juga dia tidak akan paham akan arti persahabatan yang aku tawarkan, mungkin dia memang tidak bisa terima apa yang kukatakan nanti, tapi aku tahu bahwa apa pun yang terjadi tidak akan mengubah apa pun seperti antara aku dan Alvin. Kita akan baik-baik saja.“ Agni menghampiri Sivia yang duduk di sofa samping kasur.

“Tidak ada yang sia-sia. Percayalah.“ Sivia mengangguk. Ia percaya pada sahabatnya itu.

“Aku akan merindukanmu. Baik-baik sama Iel ya, Vi.“ Sivia memeluk Agni. Agni membalasnya.

0_0

Agni sudah siap dengan dress warna rubyred dan heels yang senada. Ia duduk di meja nomor 15 seperti perjanjian. Ia sedikit kesusahan mengatur napasnya yang mendadak tak beraturan. Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk menghapus kenangan. Ia mengerti itu.

“Hai, Ag!“ Agni menoleh dan mendapati lelaki dewasa yang berdiri di sampingnya. Napasnya tercekat tiba-tiba.

“Hai.“ Agni menjabat tangan Cakka yang terulur padanya. Cakka lalu duduk di hadapan Agni.

Mereka sedikit berbasa-basi tentang lima tahun yang sudah berlalu. Tentang Cakka yang kini telah menjadi seorang manager sebuah perusahaan yang mengurusi bagian tata kota dan Agni yang sudah menjadi seorang dokter dan ia baru saja mengambil spesialis. Tentang kisah cinta mereka yang ternyata sama-sama kacau bahkan di usia yang sebenarnya sudah cukup matang.

Sebenarnya mereka juga mengajak Sivia dan Alvin, tetapi keduanya sama-sama sedang memiliki projek dalam pekerjaan mereka yang tidak bisa ditinggalkan. Hingga akhirnya hanya ada Agni dan Cakka dalam meja berbentuk lingkaran ini.

Agni beberapa kali mengambil napas. Ia benar-benar kehilangan kosa katanya. Semuanya berceceran lalu terbang dan hilang bersama dengan desiran angin yang silih berganti. Ia benar-benar tidak tahu harus apa. Meski lima tahun harusnya mampu merubah sedikit saja, nyatanya tidak.

“Kamu tahu, Kka?“ Agni memainkan tas tangannya untuk menghilangkan rasa gugup yang kian mendera.

“Apa?“ Agni mengambil napas lalu membuangnya dalam satu hentakan pendek.

“Aku pernah mencintaimu.“ Aku Agni pada akhirnya. Cakka menatap Agni dengan bingung meski ia tersenyum.

“Dulu banget. Di akhir putih abu-abu kita. Waktu kamu menyukai Acha, lalu Ify, dan akhirnya Shilla meski tak ada satu pun yang kamu dapatkan. Dulu waktu kamu sering cerita sama aku tentang cinta-cintamu. Dan itu udah lama banget.“ Agni mengambil jeda sedangkan Cakka masih menunggu kelanjutan cerita Agni.

“Meskipun aku jatuh cinta sama kamu di tahun terakhir, tapi aku menyimpannya dengan rapi. Apalagi, di akhir tahun kita, terlalu banyak kenangan yang membuat semuanya terbingkai manis. Meski tidak semanis akhirnya, sih. Tapi yang membuat aku bahagia, aku bisa dekat dengan kamu dan semua cerita-ceritamu padaku. Klasik banget kan? Tapi aku menikmatinya, seorang diri.“ Agni berceloteh riang, meski ia tahu bahwa Cakka mendadak bingung, tapi masih ada yang ingin dia katakan.

“Dan kamu tidak memberiku kesempatan untuk mengatakannya padamu karena yang kamu bahas hanya Shilla, Ify, dan seperti itu terus. Meski aku sudah mencoba menunjukkan perasaanku padamu, tapi kamu tidak mau peduli. Asal kamu tahu, tulisan-tulisanku yang sering kamu beri komentar aneh itu adalah untukmu. Semua untukmu, aku sedikit senang ketika bisa menunjukkan kepadamu meski hanya tersirat.“ Cakka masih diam dan enggan berkomentar. Ia memutar kembali buku lima tahun yang lalu.

“Klasik banget, ya kan? Persahabatan jadi cinta. Ya, saat aku mencintaimu meski dalam hati, meskipun kamu selalu menyakitiku secara tidak langsung, tapi setiap kamu tersenyum aku juga ikut tersenyum bahagia bersamamu. Percayalah.“ Agni menyentuh permukaan tangan Cakka dan mengelusnya lembut.

“Maaf.“ Satu kata yang terlontar dari Cakka. Ia belum bisa menguasai diri. Sekarang, ia tahu apa arti Agni selama lima tahun yang lalu. Ia mengerti.

“Tak apa. Aku tahu.“ Cakka kini balas mengenggam jemari Agni.

“Aku juga pernah mencintaimu. Sebelum kita mengenal, saat kita di tingkat awal. Tapi aku tahu bahwa itu sulit, terlebih ketika ada Acha. Meskipun aku mencoba mengelak, tapi rasa itu tetap ada. Aku bahagia kita bisa sekelas di kelas duabelas. Aku senang menjadi temanmu dan menjadi sahabat pada akhirnya. Makanya, aku harus melupakan cintaku karena aku tidak mau menodai persahabatan hanya karena cinta. Saat aku berusaha, aku baru tahu kalau aku selalu menyakitimu. Maafkan aku.“ Agni menatap Cakka tidak percaya. Apa-apaan ini?

“Bukan karena aku tak ingin mendengarkan ceritamu, tapi aku takut sakit hati karenanya.“ Cakka mengaku, Agni masih terdiam dengan perasaan galau mendadak.

“Masihkah kamu mencintaiku?“ Agni mengangguk.

“Tentu saja.“ Jawabnya pasti.

“Begitu pun dengan aku. Aku datang untuk memintamu, bersamaku.“ Mata Agni mendadak buram, ia ingin menangis.

“Aku bersedia.“

^_^

Dan akhirnya aku tahu, kenangan hanya masa lalu belaka yang terlalu indah untuk dilewati secara biasa. Aku sudah mencoba mengubur masa laluku, meski aku tidak pernah bisa karena ada yang belum terselesaikan hingga aku harus menyelesaikannya sekarang. Dan hasilnya tidak mengecewakan.

Perkenalan, pertemanan, persahabatan, lalu cinta. Klasik tapi selalu indah untuk masing-masing pribadi, termasuk aku. Dan saat aku tahu bahwa aku mencintai, aku memang harus mengatakannya. Karena aku tahu, hasilnya tidak buruk.

Kiniku menemukanmu
Di ujung waktuku patah hati
Lelah hati menunggu cinta yang selamatkan hidupku
Kiniku tlah bersamamu
Berjanji tuk sehidup semati
Sampai akhir sang waktu kita bersama tuk selamanya.
(Menemukanmu-Seventeen)

0 komentar:

Posting Komentar

By :
Free Blog Templates