Jumat, 12 April 2013

Ketika Jatuh Cinta Pada Seorang Sahabat



Ketika aku menyukainya, tapi dia  tak menyukai  balik.
Ketika aku menyayanginya, tapi dia tak menyayangi balik.
Ketika dia dihatiku, tapi yang di hatinya bukan aku.

Namaku Rina. Aku mempunyai seorang sahabat bernama “Ryan”, dia ganteng, putih, manis, baik, lucu, humoris.Gak heran kalo banyak yang suka padanya. Kami sahabatan dari kecil, karna memang keluarga kami bersahabat sudah dari SMA. Saat ini aku dan Ryan duduk di kelas 10 SMK Bhakti Anindya. Ryan mengambil jurusan TKJ, sedangkan aku mengambil jurusan AP. Karna memang aku ingin menjadi seorang sekretaris, sedangkan ryan? Entahlah aku tak mengetahuinya :D kami selalu berangkat sekolah bareng, karna aku memang tak diperbolehkan membawa kendaraan sendiri kesekolah oleh mamahku, ya terpaksa ryan menjemputku dan mengantarku pulang. Tapi bagi dia itu tak masalah karna menurutnya berangkat sekolah sendiri itu iseng tak ada teman mengobrol.
Aku dan ryan memang dekat sedekat orang pacaran. Sampai sampai kami di isukan berpacaran oleh teman-temanku dan teman-temannya ryan, tapi kami tidak menggubrisnya, ya buat apa di gubris? Toh kenyatannya kan gak benar. Mau dijelasin kaya apapun juga tetap saja kami dekat tapi hanya seorang sahabat.Sewaktu istirahat, ryan dating kekelasku untuk mengajakku kekantin dan aku mau. Dari kelasku menuju kantin ya lumayan jauh sii, tapi di sepanjang jalan kami bercanda canda dan ketawa-tawa :D

Saat duduk di salah satu meja di kantin sambil menunggu pesanan makan yang kami pesan, ryan cerita ceritaaaaa tentang hatinyaaaaaaa *ciwciw* :D
Ryan: “rin, gue lagi suka sama cewek nih”
Rina: “cius? Suka sama siapa? Ciyeeee akhirnya jatuh cintaaa jugaaaaa :p *sambilmeledek*
Ryan: “serius ahh rinnn gak bercandaaaaa-_-“
Rina: “iyahiyahhh, maafffffffff dehh u,u suka sama siapa si ryannnnnn yang gantengggg? :p”
Ryan: “sama sintyaaaaa rin, anak AP5 ituuuu”
Rina: “oh dia, yang cantik itu kan yang cantiknya badaiiiiiiii bangett”
Ryan: “iyahhhhh rin, kalo gue deketin dia gimana yaaaa?”
Rina: “ya ga gimana-gimana. Kamu tinggal minta pin bb diaaa, terus kamu deketin deh. Mudah kan?”
Ryan: “iyaayahh, oke sip lah”

Kami pun menyantap makanan yang telah tiba di meja kami sampai habisssss. Setelah itu, aku terus memikirkan cerita ryan pas istirahat tadi. Entah kenapa setelah ryan bilang seperti itu, dadaku terasa sesek, terasa sakit, ingin rasanya menangis tapi tak bias ku keluar kan air mata itu. “Apa aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri?Ahh mungkin hanya firasat ku saja”. Ucap rina dalam hati
Tak lama ryan semakin sering menceritakan sintya padaku, semakin sering pula aku merasakan keganjalan di hati, sakit pada hatiku. Yaph! Memang mungkin aku mulai menyukainya dan mulai menyayanginya melebihi seorang sahabat, tapi aku tak mungkin mengutarakannyaaa karna aku tak mau kehilangan dia dan aku tak mau dia menjauh darikuuu. Aku memutuskan untuk menyimpan semua perasaan ini baik-baik disini, dihatiku.

Malam hari saat itu, aku sedang duduk di teras rumahku sambil memainkan notebook, terdengar suara motor yang berhenti depan rumahku dan aku mengenal suara motor itu, tak lama Ryan pun datang dan menghampiriku.
Rayn:”lagi ngapain lu Rin?”
Rina:” menurut L? gak liat gue lagi ngapain?”
Rayn:”waelllahh sewot amat mbaaaa, hahah iyaa maaf-maaf deh. Eh maucerita dong gueeee”
Rina:” cerita aja gue ngedengerin kok”
Rayn:” gue udah dapet dong nomornya sintyaa”
Rina:”ciyeee yaudah cepet-cepet gih lu deketin nanti keburu diambil orang loh”
Ryan: “okesip”

Malam itu adalah malam dimana Ryan terlihat senang tapi tidak denganku, mungkin malam itu membuat hatiku sakit, tapi yasudahlah aku bias menahan rasa nyesek dihatiku. Kalau Ryan ikut senang aku pun senang.
Selang beberapa minggu, aku mendengar dari teman-temanku kalau sintya dengan rayn telah jadian.Tapi aku tak mendengar sendiri dari Ryan, dia  tak menceritakan itu padaku. Yasudahlah aku mencoba mengerti.
“Sesakit inikah rasanya mendengar kau telah menjadi kekasih orang lain. Kau telah menjadi miliknya, bukan milikku? Haruskah aku merasakan rasa sakit ini terus-menerus? Tak bisakah kau sedikit peka terhadap perasaanku”
“Aku memang tak bias menjadi milikmu Ryan, tapi dekat denganmu saja aku sudah merasa senang”. Ucap rina dalam hati saat melihat Ryan dan Sintya berada di kantin.

“tak perlu memilikimu, melihatmu bisa memiliki seorang kekasih walau bukan bersamaku saja aku bias merasakan kebahagiaanmu:’)”
Aku bisa apa saat aku selalu melihatmu jalan berdua dan bergandeng tangan dengannya? Aku mau menangis? Itu tak  mungkin. Atau aku harus menyatakan perasaanku yang sebenarnya juga? Itu tak mungkin. Hal yang paling mungkin aku lakukan ya Cuma satu, berusaha tersenyum dan terlihat tak terjadi apa-apa pada hatiku.
malam hari aku duduk sendiri dan termenung. Entah apa yang aku pikirkan. 
 Semakin lama kau berhubungan dengannya, kita semakin jauh. Tak ada lagi waktu yang kamu luangkan untuk menemani kesendirianku, tak ada lagi candaan yang selalu membuatku tertawa, saat ini waktumu hanyalah untuk dia, kekasihmu. Aku mencoba mengerti semua apa yang  kamu lakukan walau kamu jauh dariku. Tapi, tak bisakah kamu mengerti kalau aku merindukanmu. Merindukanmu yang dulu:’)
saat itu aku benar-benar merasakan hal yang paling berbeda, aku lelah, aku capek kalo harus pendam semua ini. Aku ingin memelukmu. Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin kau mengethui perasaanku yang sebenarnya:’) bertahun-tahun aku memndem perasaan ini padamu:”)
malam itu aku pun pergi  menuju rumah Ryan, saat itu yang aku inginkan hanyalah melihat ryan dan memeluknya walau sebentar. Tapi saat hendak menyebrangg, BRRRRRRRAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKK!!! Aku pun tertabrak mobil dan tak sadarkan diri.

Orang yang di sekitar tempat itu pun membawaku ke rumah sakit dan menghubungi mamahku. Kemudian Mamahku pun menelpon Ryan dan menyuruhnya datang ke rumah sakit juga. Semua panik dengan keadaanku, keadaanku benar-benar parah..saat aku sudah bisa diatasi dokter pun keluar dan mengatakan “keadaan rina belum 100% membaik dia masih dalam kondisi tak sadarkan diri”. “bolehkah kami masuk ke dalam dan melihat kondisinya dok?” tanya Ryan. “boleh saja asalkan jangan berisik”. “baik dok” ucap mamahku.
Saat itu semua terisak karna menangis, aku bisa mendengar suara mereka. Ryan yang menyuruhku bangun agar kita bisa melakukan apapun bareng-bareng lagi, mamah yang ingin aku kembali seperti biasa,semua menginkan aku terbangun. 

Tak lama kemudian aku pun terbangun tapi aku masih terbaring lemas tak berdaya. Aku pun memegang wajah mamahku dan mengusap air matanyaaa, aku berusahha menghentikan air mata mamahku, aku berbisik pada mamahku “aku titip surat yang adaa di laci meja belajarku, titip itu buat Ryab, tolong kasihkan ke dia saat aku memang sudah tidak berada di dunia ini lagi”. Lalu mamahku menjawab sambil terisak “kamu gak boleh ngomong seperti itu dek, nanti kalo Tuhan mengabulkan permintaanmu gimana? Mamah sama siapa? Papah kamu kan sibuk dengan kerjaannya dan jarang ada waktu di rumah”. “aku akan selalu ada di samping mamah dan.. di..ha..ti..ma..mah” setelah menjawab itu aku pun sudah tak sadarkan diri an pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan orang yang kusayangi dan aku cintai.
Mamah menangisi kepergianku, diambil lah surat di laci meja belajarku yang aku titipkan untuk Ryan dan diberikannya pada Ryan.
Mamah: “Ryan, sebelum rina pergi kemarin dia menitipkan surat ini untukmu”
Ryan: “ini surat apa yah tante?”
Mamah: “Tante kurang tau sayang, di hanya menitipkan itu dan dikasihkan ke kamu saat dia udah tidak ada disini lagi”
Ryan: “terima kasih ya tante:’)”
Mamah: “samasama. Tante pamit yah Ryan”
Ryan: “hati-hati Tante”
Ryan pun mulai membuka surat dariku dan membacanya .

Dear Ryan
Dari kecil kita sudah melakukan apapun bareng-bareng.
Ingatkah saat kamu belum merasakan apa itu jatuh cinta?
Kamu masih bisa luangkan waktu untukku, untuk menemaniku, bercanda tawa denganku dan melakukan apapun bersam denganku.
Tapi, saat kamu jatuh cinta dan telah memilikinya?
Kamu tak ingat aku, tak ingat semua yang pernah lakuin setiap hari.
Itu tak pernah kamu lakukan kembali bersamaku.
Kamu pun tak pernah meluangkan sedikit waktumu untukku.
Taukah kau? Saat kau bersamanyaa ada rasa yang berbeda dan selalu mengganjal di hati ini, Ryan.
Ya! Rasa sayang yang aku rasain ke kamu itu melebihi seorang sahabat.
Aku menyayangimu Ryan..Aku menyayangimuu..
Tapi kamu takk pernah sadar akan hal ini.
Aku selalu tersenyum dan tertawa seakan semua tak terjadi apa apa karna aku tak ingin merusak kebahagiaanmu.
Aku berusaha memendam rasa sayang ini.. memendam rasa sakit ini.. agar kamu tetap bahagia walau kebahagiaanmu bukan karnaku:’)
Terima kasih karna selaama ini kamu meberikan arti cinta yang sesungguhnya kepadaku.. karna kamu telah memberikan senyuman di setiap hari-hariku..
Aku menyayangimu..

Ryan yang membaca surat itu pun menetesi air mata karna ia kecewa kepada dirinya yang tak pernah mengerti dan melupakan sahabatnya setelah ia mempunyai seorang kekasih. Ia menyesali apa yang ia lakukan  kepada rina. Ia menyadari semua sayangnya Rina setelah Rina  pergi dan tak pernah kembali lagi:’)

Utamakanlah seorang sahabat. Bagaimanapun dia yang pertama kali selalu ada buat kamu. Dimana kesalahamu dia selalu memaafkanmu. Dan dimana kekuranganmu dia selalu menerimamu, sedangkan kekasihmu dia tak selalu ada untukmu. Tak selalu menerima kekuranganmu dan tak selalu memaafkan setiap kesalahanmu. Karna Sahabat dengan Kekasih itu berbeda jauh. Sahabat itu penting untukmu. Sahabat bisa selalu memahami dan mengerti setiap saat.  Kekasih bisa mengerti dan memahami hanya sekejap.
Sahabat dengan pacar? Pilih seorang Sahabat! Bukan seorang Pacar!
Kalian pasti mengerti mana yang terbaik :)

0 komentar:

Posting Komentar

By :
Free Blog Templates