Senin, 17 Desember 2012
Mungkin sudah ada setengah jam lamanya aku terus berkutat di
depan layar laptopku. Mataku terus tertuju pada barisan tulisan yang tersusun
rapi di layar dan jemariku menari lincah mengetik kalimat-kalimat untuk
melanjutkan tugas makalah yang sedang aku kerjakan.
Namun, semakin lama aku merasa apa yang aku tuliskan semakin tidak karuan. Padahal aku ingat persis bahwa tema makalah yang harus aku buat adalah hubungan luar negeri Indonesia pasca-reformasi. Tapi apa yang aku tuliskan rasanya sudah keluar jalur. Aku tidak lagi fokus dengan beberapa file bahan pembuatan makalah yang aku download kemarin maupun dua buah buku sumber yang terbuka halamannya yang berada di samping laptopku sekarang. Ya, aku memang tidak fokus, bahkan sejak awal aku duduk berhadapan dengan laptop setengah jam yang lalu.
Aku memang tidak berniat mengerjakan makalah ini. Setidaknya tidak untuk saat ini. Sekalipun deadline mengumpulkan tugas individu pelajaran Kewarganegaraan itu adalah besok sebelum jam dua belas tepat. Kau tahu, aku hanya ingin menyibukkan diriku sementara kau pun sibuk dengan urusanmu sendiri.
”Masih lama ya, Fy?” Kau bertanya dan dari nada bicaramu aku tahu kau berharap aku menjawab pertanyaan itu dengan kata tidak.
”Masih,” jawabku pendek tanpa sedikit pun menoleh ke arahmu. Aku hanya ingin membuatmu menyadari bahwa aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang kaukerjakan saat ini. Aku tidak mau peduli. Aku tidak peduli karena aku tidak menyukainya.
Aku bisa mendengarmu menghembuskan napas panjang. Aku tahu kau mungkin kelelahan. Semalam kau pulang larut karena sebuah acara perpisahan dengan teman-teman sekolahmu. Dan pagi ini kau sudah harus terjaga lebih awal karena kau belum menyiapkan apa-apa untuk kepergianmu siang nanti. Jika saja ada mama di rumah, pasti ia sudah sibuk membantumu berkemas.
Aku melirik ke arah pintu kamarmu yang terbuka lebar. Aku bisa melihatmu duduk di atas tempat tidurmu dan sibuk memasukkan pakaian-pakaianmu ke dalam sebuah tas besar. Entah bagaimana caranya kau bisa tahu, tapi kau lalu menoleh ke arahku. Membuatku sedikit tersentak karena kedapatan sedang memerhatikan kesibukanmu.
”Katanya sibuk... ngapain lo ngeliatin?” tanyamu kemudian.
”Ngg ... siapa juga yang ngeliatin!” jawabku dengan agak tergagap.
Kau lantas memandangku dengan heran tapi detik berikutnya kau kembali beralih dengan pakaian-pakaian yang harus segera kaukemasi itu.
Aku menghela napas. Aku tahu ini aneh tapi ... kenapa aku tidak suka melihatmu berkemas?
Rasanya baru kemarin saat kau datang. Sabtu pagi itu matahari baru muncul saat terdengar suara bel rumahku berbunyi pertanda seseorang berada di luar pagar dan menunggu pagar dibuka. Orang itu adalah kau, kak Rio. Aku sudah tahu bahwa kau adalah kak Rio, Mario Stevano Aditya, saat aku membukakan pintu pagar untukmu meskipun saat itu kau belum memerkenalkan diri. Mario Stevano Aditya, laki-laki yang papa bilang akan tinggal menumpang di rumah kami. Kau adalah anak dari teman baik papa semasa kuliah dulu. Dari cerita yang aku dengar dari papa, orang tuamu harus tinggal di Belanda selama beberapa bulan, mungkin setengah tahun. Mereka kemudian menitipkanmu –anak semata wayang mereka– pada keluarga kami karena mereka khawatir jika meninggalkanmu sendiri di rumah tanpa pengawasan.
Kau kemudian berjalan mengiringiku masuk ke dalam rumah sambil menenteng dua buah koper besar. Kedatanganmu lalu disambut dengan antusias oleh papa-mamaku. Mereka kemudian menanyakan banyak hal padamu, tentang sekolahmu dan sebagainya. Sementara itu aku yang langsung saja diperintahkan mama untuk membuatkanmu teh, terus saja meracau tak jelas sendiri di dapur. Menurutku respon kedua orang tuaku berlebihan. Bahkan sejak dua hari yang lalu mama sudah sibuk menyiapkan kamar yang nantinya akan kaupakai.
Aku tidak suka kedatanganmu. Hei! Jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Kau datang terlalu pagi untuk mengacaukan weekend-ku saat itu.
Hal selanjutnya yang membuatku tidak menyukaimu adalah melihat bagaimana ekspresimu saat aku mengantarkanmu ke kamar yang akan kauhuni selama tinggal di rumahku. Aku tidak peduli sebagus apa pun rumahmu tapi kau menumpang di rumahku. Suka tidak suka kau harus menerima apa pun yang kami miliki, termasuk kamar yang telah disiapkan untukmu. Mungkin kecil menurutmu, tapi itu bahkan sudah lebih besar dari kamar yang aku tempati.
”Daripada bengong, mendingan lo bantuin gua deh!” Kau tiba-tba saja berujar dari dalam kamarmu, membuatku terhenyak.
”Siapa juga yang lagi bengong, orang gua lagi mikir,” sungutku.
”Mikirin gua kan?” tanyamu dengan intonasi meledek.
Aku tahu kau benar. Tapi tentu saja aku tidak mau membenarkan perkataanmu itu.
”Ngapain juga gua mikirin lo? Udah deh, lo kalo mau pergi, pergi aja!” sahutku kemudian.
Aku lalu membuang pandanganku ke arah salah satu buku yang sejak kubuka halamannya belasan menit lalu, kuacuhkan begitu saja. Aku meraih buku itu, sekadar untuk membuatmu percaya bahwa aku tengah sibuk dengan tugas sekolahku.
”Yakin nih nggak apa-apa kalo gua pergi?” Kau kembali menggodaku. Aku tahu kau sedang mulai mengajakku bercanda. Tapi sayangnya saat ini aku sedang benar-benar tidak berminat untuk itu.
”Ya nggak apa-apa lah! Emangnya kenapa juga kalo lo pergi?” Aku membalas pertanyaanmu dengan begitu sinis.
Menyadari hal itu, kau berjalan menghampiriku dan meninggalkan urusanmu dengan barang-barang yang sedang kaukemasi. Kau lalu bertanya, ” kenapa sih lo kok sinis banget gitu, Fy, sama gua?”
Kau kemudian duduk di atas sofa yang ada di belakangku yang duduk bersila di lantai menghadap laptop.
”Gua biasa aja kok!” tukasku menyangkal kata-katanya tadi. ”Udah deh, lo nggak usah gangguin gua!” hardikku kemudian untuk mengusirmu pergi dari dekatku.
Mengusirmu pergi meskipun dalam hati aku tidak ingin melakukan itu. Aku tidak ingin kaupergi. Benar-benar tidak ingin.
Nyatanya kalimatku barusan tidak membuatmu berpindah sejengkal pun dari posisimu di belakangku. Aku tahu kau masih di sana dan mungkin kau sedang berpikir ada apa denganku.
Hening kemudian. Hanya suara halus jari-jariku yang sedang mengetik yang memenuhi ruang dengar kita. Aku tidak tahu apa yang sedang kaulakukan dalam diammu. Apa kau sedang memikirkanku? Kuharap begitu. Kuharap kau memikirkanku. Dan juga memikirkan perasaanku.
”Maafin gua ya, Fy,” tiba-tiba saja kau mencetuskan kata maaf.
Aku tersentak mendengar kata-katamu. Maaf? Kau sadar bahwa kau sudah melakukan kesalahan?
”Gua tahu selama ini gua udah nyebelin banget, bahkan dari awal kedatangan gua di rumah ini. Maafin gua karena udah sering gangguin lo, sering bikin lo badmood. Maaf juga gua sering banget muncul tiba-tiba di kamar lo.”
Kau lalu tertawa sendiri setelah menyelesaikan kalimat-kalimatmu itu. Kau pasti teringat dengan semua tingkah menyebalkanmu itu, kan? Baguslah kalau kau mengingatnya.
Sementara itu aku masih berpura-pura tenggelam dalam tugas makalah yang sedang kukerjakan. Masih berpura-pura acuh dan tak peduli walaupun sebenarnya aku menyimak semua penuturanmu tadi. Pikiranku mau tidak mau membawaku ke saat-saat yang kausebutkan tadi. Saat kau menggangguku dengan serangkaian tingkahmu yang tidak penting. Saat kau berhasil membuatku kehilangan mood bagus karena kau merusak apa pun rencana menyenangkan yang telah kususun. Aku juga teringat bagaimana kau muncul dengan tiba-tiba di dalam kamarku, mengagetkanku dan membuatku terbangun pagi dengan teriakanmu tepat di telingaku.
Aku mengingat semua itu, kak Rio. Aku mengingat semuanya. Tak satu pun waktu kebersamaan kita yang terlewat dari ingatanku. Aku mengingat setiap detail bagaimana kau mulai masuk ke dalam hidupku juga ke dalam hatiku.
”Dan sekarang saatnya gua pergi. Gua tahu, Fy, lo pasti girang banget deh gua pergi dari rumah ini. Nggak akan ada yang gangguin lo lagi. Ya, lo bisa tenang sekarang.” Kau kembali membuka mulutmu, membuatku kembali dari lamunanku ke detik-detik menjelang kepergianmu ini.
”Sekali lagi maaf, ya, Fy!”
”Thanks banget buat semuanya selama ini.”
Aku kemudian dapat merasakan gerakan tangan kananmu menyentuh puncak kepalaku dan sedikit mengacak rambutku. Aku masih diam tak bersuara, masih saja berpura-pura larut dalam tugasku. Tapi kau pasti tidak tahu bahwa air mataku sudah mulai menitik sejak tadi, sejak pikiranku melayang-layang ke masa-masa kebersamaanku denganmu.
Sekarang, air mataku terus meleleh dan turun deras melewati pipiku.
Aku beranjak dari dudukku. Tanpa sedikit pun menoleh ke belakang –ke arahmu–, aku langsung menghamburkan diri ke dalam kamarku yang terletak tepat di samping kamar yang sebentar lagi akan kautinggalkan.
Aku bisa mendengarmu menyerukan namaku. Kau pasti bingung melihat sikap anehku barusan. Aku tak peduli meskipun kudengar kau memanggilku beberapa kali. Dengan satu gerakan yang agak kasar, aku menutup pintu kamarku setelah aku memasukinya. Terdengar suara gebrakan pintu yang cukup keras saat pintu kamarku benar-benar tertutup rapat.
Aku terduduk di balik pintu. Bulir-bulir air mata terus saja berjatuhan tanpa bisa kucegah. Aku terus berusaha menghapus jejaknya di pipiku dengan kedua telapak tanganku tapi ternyata percuma saja. Kesedihan tetap saja menguasaiku.
Di sela tangisku yang belum juga mereda, kudengar suara lembutmu memanggilku dari balik pintu. Kau mengetuk pintu itu dengan perlahan sambil berkata, ”Fy, lo kenapa?”.
Aku harus menjawab apa? Apa aku harus mengatakan bahwa aku tidak suka semua kata-katamu tadi? Aku tidak suka permintaan maafmu. Aku tidak suka mendengar ucapan terima kasihmu. Aku tidak suka saat kau berkata bahwa aku akan sangat senang dengan kepergianmu. Aku tidak suka dengan semua itu karena kau membuatnya terkesan seperti sebuah perpisahan.
Perpisahan. Kenapa harus ada kata itu diantara kau dan aku?
”Kenapa lo harus pergi sih, Kak?”
Hanya kalimat tanya itu yang dapat kulontarkan untuk membalas tanyamu tadi. Itu sudah cukup kan untuk membuatmu mengerti apa yang terjadi denganku saat ini?
Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan diriku.
Kau diam. Aku rasa kau sudah mulai mengerti apa yang kumaksudkan.
”Ify, maaf.” Kau kembali menukaskan permintaan maafmu. Tahukah kau bahwa aku tidak menyukai kata maafmu itu?
Dulu aku memang selalu menantikan kata maaf terujar dari mulutmu. Itu dulu, saat aku masih menganggapmu sebagai makhluk asing pengganggu dengan kadar menyebalkan paling tinggi yang pernah kutemui. Tapi sekarang aku sudah terlanjur terbiasa dengan gangguanmu. Aku sudah terbiasa dengan tingkah menyebalkanmu. Aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu yang sebelumnya tidak kusukai di rumahku.
Kau memang menyebalkan. Sangat. Tapi aku sudah terlanjur terbiasa denganmu. Sekarang aku tak bisa membayangkan bagaimana aku tanpamu lagi di rumahku. Kepergianmu hanya akan membuatku merasa kehilangan, sebuah perasaan yang paling tidak ingin aku rasakan lagi. Sudah cukup sakitnya kehilangan yang kurasakan karena kepergian kak Angel dalam sebuah kecelakaan tahun lalu.
Aku tidak ingin kehilangan seseorang yang kusayangi lagi. Aku tidak ingin kehilanganmu karena aku sudah mulai menyayangimu, Kak. Kau menyebalkan tapi entah bagaimana saat berada di dekatmu aku merasa menjadi seorang adik lagi setelah kehilangan kakak tunggalku itu. Aku merasa memiliki seorang kakak lagi karena kehadiranmu.
”Fy, lo kan tahu, gua udah susah payah sampai akhirnya bisa keterima kuliah di sana. Nggak mungkin lah gua lepasin gitu aja. Tolong ngerti ya, Fy,” tambahmu setelah tak juga kaudengar aku merespon kata-katamu sebelumnya.
Aku masih diam tapi aku masih tetap di balik pintu itu, mendengarkanmu sambil berusaha menghentikan tangisku. Aku jadi teringat saat pertama kau membuatku menangis dulu. Saat itu kau dengan sengaja meletakkan seekor kecoa, binatang paling menjijikkan menurutku, di atas meja belajarku. Kau benar-benar menyebalkan tapi kemudian kau berjanji padaku takkan pernah membuatku menangis lagi. Kau bilang wajahku terlihat sangat jelek saat menangis.
Sekarang kau tahu kan bahwa kau sudah mengingkari janjimu itu?
Kau tidak berkata-kata lagi. Diam. Tapi aku yakin kau masih berada di balik pintu kamarku. Kaubiarkan hening berkuasa. Aku pun diam. Tak terdengar lagi isakanku.
Menit-menit berlalu. Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu yang kita lewatkan. Aku lalu memutuskan untuk beranjak bangun dari dudukku. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum meraih gagang pintu dan membuka pintu tersebut.
Kudapati kau berdiri tepat di hadapanku setelah pintu mengayun terbuka. Detik berikutnya aku sudah berada di pelukanmu kemudian aku berkata, ”hati-hati di jalan ya, Kak! Lo harus sering ngabarin gua kalo udah di sana. Jangan pernah lupain gua.”
Kau lalu melepaskan pelukanku. ”Gua janji nggak akan lupain lo,” balasmu disertai ulasan senyummu yang sangat manis.
*****
Satu tahun bukan waktu yang singkat, kan?
Di hari itu, hari kepergianmu untuk meneruskan studi ke Aussie, setengah hatiku masih berharap kauurungkan niatmu meninggalkanku saat itu. Setengah sisanya mengajakku untuk berusaha memahamimu. Memahami mimpimu. Memahami apa yang ingin kauraih untuk masa depanmu. Hingga akhirnya, walaupun rasanya berat sekali, aku membiarkan jarak ribuan kilometer membentang memisahkan kau dan aku.
Mulai saat itu, aku belajar tentang bagaimana menyanyangi seseorang. Kepergianmu membuatku mengerti bahwa menyayangi seseorang berarti bahagia melihat orang yang kita sayangi meraih mimpinya. Menyayangi seseorang berarti membiarkan ia mengepakkan sayap kebebasannya dan terbang menuju tempat impiannya. Kita tak bisa memaksakan takdir membuatnya terus berada di samping kita.
Kau tahu, Kak? Aku sangat senang karena kau menepati janjimu sesaat sebelum keberangkatanmu waktu itu. Janjimu untuk tidak akan pernah melupakanku. Dulu aku begitu takut akan merasakan lagi perasaan kehilangan yang begitu kubenci. Tapi hebatnya, kau membuatku tidak pernah merasa sendirian walaupun jelas-jelas kau tak lagi ada di sampingku. Kini aku tahu, hilangnya seseorang dari pandangan kita bukanlah masalah selama kita tidak menghilangkan orang itu dari hati kita.
Kau selalu ada dan menemaniku, Kak Rio. Selalu di hatiku.
Aku tersenyum sendiri melihat sepasang sepatu yang berada di rak penyimpanan sepatuku. Kuraih sepatu dengan warna merah –warna kesukaanku– yang mendominasi itu. Di bagian depan sepatu sebelah kanan tertulis kata ”Ify” sedangkan yang sebelah kiri tertulis kata ”bawel”. Itu sepatu yang kaulukis untukku. Itu adalah hadiah pemberian darimu saat ulang tahunku yang ke enam belas. Selain dua kata tadi dan gambar wajah semacam karikaturku yang kautoreh di atas sepatu yang awalnya polos itu, kau juga menggambarkan beberapa bintang berwarna kuning keemasan. Ya, kita memang suka melihat bintang bersama saat kita sama-sama mengalami insomnia tengah malam.
Suara bel rumah membuatku meletakkan kembali sepatu yang ada di tanganku. Seseorang berada di luar pagar dan menunggu pintu rumahku terbuka untuknya. Aku melirik jam dinding yang menggantung di dinding sebelah kiriku. Baru jam setengah tujuh pagi. Aku tersentak. Sepagi inikah? Masih terlalu pagi bukannya untuk bertamu?
Aku bergegas menuju luar rumah untuk segera tahu siapa pemencet bel tadi. Aku tidak langsung membuka pagar rumahku begitu melihat sosok yang tampak di balik pagar itu.
”Maaf, anda cari siapa ya?” tanyaku pada orang itu.
Orang berperawakan tinggi dan agak kurus dengan tas ransel di pundak kanannya itu menaikkan sebelah alisnya kemudian ia menjawab, ”oh, maaf, sepertinya saya salah alamat. Maaf, sudah mengganggu!”
Orang itu kemudian menarik kopernya, berbalik lalu melangkah pergi.
”Kak Rio....”
Kau pun berbalik. Kau melipat kedua tanganmu di depan dada sambil tersenyum nakal.
”Emang kita kenal ya?” tanyamu kemudian.
Aku langsung memasang wajah cemberut. ”Gitu ya... udah lupa nih sama gua?”
Kemudian kau tertawa. Senang sekali rasanya bisa melihatmu tertawa lagi.
Aku lalu membukakan pagar untukmu. Kau langsung melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah begitu pagar terbuka. Kau terus berjalan masuk tanpa mengindahkanku. Aku masih berdiri di luar rumah ketika kau sudah sampai di ruang tamu. Aku memandangi figurmu yang sudah sangat kuhafal setiap detailnya dari belakang. ”Kak Rio!” panggilku kemudian.
Kau membalikkan tubuhmu, tepat menghadap ke arahku dan menungguku bicara lagi.
”Gue sayang sama lo!”
*****
Namun, semakin lama aku merasa apa yang aku tuliskan semakin tidak karuan. Padahal aku ingat persis bahwa tema makalah yang harus aku buat adalah hubungan luar negeri Indonesia pasca-reformasi. Tapi apa yang aku tuliskan rasanya sudah keluar jalur. Aku tidak lagi fokus dengan beberapa file bahan pembuatan makalah yang aku download kemarin maupun dua buah buku sumber yang terbuka halamannya yang berada di samping laptopku sekarang. Ya, aku memang tidak fokus, bahkan sejak awal aku duduk berhadapan dengan laptop setengah jam yang lalu.
Aku memang tidak berniat mengerjakan makalah ini. Setidaknya tidak untuk saat ini. Sekalipun deadline mengumpulkan tugas individu pelajaran Kewarganegaraan itu adalah besok sebelum jam dua belas tepat. Kau tahu, aku hanya ingin menyibukkan diriku sementara kau pun sibuk dengan urusanmu sendiri.
”Masih lama ya, Fy?” Kau bertanya dan dari nada bicaramu aku tahu kau berharap aku menjawab pertanyaan itu dengan kata tidak.
”Masih,” jawabku pendek tanpa sedikit pun menoleh ke arahmu. Aku hanya ingin membuatmu menyadari bahwa aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang kaukerjakan saat ini. Aku tidak mau peduli. Aku tidak peduli karena aku tidak menyukainya.
Aku bisa mendengarmu menghembuskan napas panjang. Aku tahu kau mungkin kelelahan. Semalam kau pulang larut karena sebuah acara perpisahan dengan teman-teman sekolahmu. Dan pagi ini kau sudah harus terjaga lebih awal karena kau belum menyiapkan apa-apa untuk kepergianmu siang nanti. Jika saja ada mama di rumah, pasti ia sudah sibuk membantumu berkemas.
Aku melirik ke arah pintu kamarmu yang terbuka lebar. Aku bisa melihatmu duduk di atas tempat tidurmu dan sibuk memasukkan pakaian-pakaianmu ke dalam sebuah tas besar. Entah bagaimana caranya kau bisa tahu, tapi kau lalu menoleh ke arahku. Membuatku sedikit tersentak karena kedapatan sedang memerhatikan kesibukanmu.
”Katanya sibuk... ngapain lo ngeliatin?” tanyamu kemudian.
”Ngg ... siapa juga yang ngeliatin!” jawabku dengan agak tergagap.
Kau lantas memandangku dengan heran tapi detik berikutnya kau kembali beralih dengan pakaian-pakaian yang harus segera kaukemasi itu.
Aku menghela napas. Aku tahu ini aneh tapi ... kenapa aku tidak suka melihatmu berkemas?
Rasanya baru kemarin saat kau datang. Sabtu pagi itu matahari baru muncul saat terdengar suara bel rumahku berbunyi pertanda seseorang berada di luar pagar dan menunggu pagar dibuka. Orang itu adalah kau, kak Rio. Aku sudah tahu bahwa kau adalah kak Rio, Mario Stevano Aditya, saat aku membukakan pintu pagar untukmu meskipun saat itu kau belum memerkenalkan diri. Mario Stevano Aditya, laki-laki yang papa bilang akan tinggal menumpang di rumah kami. Kau adalah anak dari teman baik papa semasa kuliah dulu. Dari cerita yang aku dengar dari papa, orang tuamu harus tinggal di Belanda selama beberapa bulan, mungkin setengah tahun. Mereka kemudian menitipkanmu –anak semata wayang mereka– pada keluarga kami karena mereka khawatir jika meninggalkanmu sendiri di rumah tanpa pengawasan.
Kau kemudian berjalan mengiringiku masuk ke dalam rumah sambil menenteng dua buah koper besar. Kedatanganmu lalu disambut dengan antusias oleh papa-mamaku. Mereka kemudian menanyakan banyak hal padamu, tentang sekolahmu dan sebagainya. Sementara itu aku yang langsung saja diperintahkan mama untuk membuatkanmu teh, terus saja meracau tak jelas sendiri di dapur. Menurutku respon kedua orang tuaku berlebihan. Bahkan sejak dua hari yang lalu mama sudah sibuk menyiapkan kamar yang nantinya akan kaupakai.
Aku tidak suka kedatanganmu. Hei! Jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Kau datang terlalu pagi untuk mengacaukan weekend-ku saat itu.
Hal selanjutnya yang membuatku tidak menyukaimu adalah melihat bagaimana ekspresimu saat aku mengantarkanmu ke kamar yang akan kauhuni selama tinggal di rumahku. Aku tidak peduli sebagus apa pun rumahmu tapi kau menumpang di rumahku. Suka tidak suka kau harus menerima apa pun yang kami miliki, termasuk kamar yang telah disiapkan untukmu. Mungkin kecil menurutmu, tapi itu bahkan sudah lebih besar dari kamar yang aku tempati.
”Daripada bengong, mendingan lo bantuin gua deh!” Kau tiba-tba saja berujar dari dalam kamarmu, membuatku terhenyak.
”Siapa juga yang lagi bengong, orang gua lagi mikir,” sungutku.
”Mikirin gua kan?” tanyamu dengan intonasi meledek.
Aku tahu kau benar. Tapi tentu saja aku tidak mau membenarkan perkataanmu itu.
”Ngapain juga gua mikirin lo? Udah deh, lo kalo mau pergi, pergi aja!” sahutku kemudian.
Aku lalu membuang pandanganku ke arah salah satu buku yang sejak kubuka halamannya belasan menit lalu, kuacuhkan begitu saja. Aku meraih buku itu, sekadar untuk membuatmu percaya bahwa aku tengah sibuk dengan tugas sekolahku.
”Yakin nih nggak apa-apa kalo gua pergi?” Kau kembali menggodaku. Aku tahu kau sedang mulai mengajakku bercanda. Tapi sayangnya saat ini aku sedang benar-benar tidak berminat untuk itu.
”Ya nggak apa-apa lah! Emangnya kenapa juga kalo lo pergi?” Aku membalas pertanyaanmu dengan begitu sinis.
Menyadari hal itu, kau berjalan menghampiriku dan meninggalkan urusanmu dengan barang-barang yang sedang kaukemasi. Kau lalu bertanya, ” kenapa sih lo kok sinis banget gitu, Fy, sama gua?”
Kau kemudian duduk di atas sofa yang ada di belakangku yang duduk bersila di lantai menghadap laptop.
”Gua biasa aja kok!” tukasku menyangkal kata-katanya tadi. ”Udah deh, lo nggak usah gangguin gua!” hardikku kemudian untuk mengusirmu pergi dari dekatku.
Mengusirmu pergi meskipun dalam hati aku tidak ingin melakukan itu. Aku tidak ingin kaupergi. Benar-benar tidak ingin.
Nyatanya kalimatku barusan tidak membuatmu berpindah sejengkal pun dari posisimu di belakangku. Aku tahu kau masih di sana dan mungkin kau sedang berpikir ada apa denganku.
Hening kemudian. Hanya suara halus jari-jariku yang sedang mengetik yang memenuhi ruang dengar kita. Aku tidak tahu apa yang sedang kaulakukan dalam diammu. Apa kau sedang memikirkanku? Kuharap begitu. Kuharap kau memikirkanku. Dan juga memikirkan perasaanku.
”Maafin gua ya, Fy,” tiba-tiba saja kau mencetuskan kata maaf.
Aku tersentak mendengar kata-katamu. Maaf? Kau sadar bahwa kau sudah melakukan kesalahan?
”Gua tahu selama ini gua udah nyebelin banget, bahkan dari awal kedatangan gua di rumah ini. Maafin gua karena udah sering gangguin lo, sering bikin lo badmood. Maaf juga gua sering banget muncul tiba-tiba di kamar lo.”
Kau lalu tertawa sendiri setelah menyelesaikan kalimat-kalimatmu itu. Kau pasti teringat dengan semua tingkah menyebalkanmu itu, kan? Baguslah kalau kau mengingatnya.
Sementara itu aku masih berpura-pura tenggelam dalam tugas makalah yang sedang kukerjakan. Masih berpura-pura acuh dan tak peduli walaupun sebenarnya aku menyimak semua penuturanmu tadi. Pikiranku mau tidak mau membawaku ke saat-saat yang kausebutkan tadi. Saat kau menggangguku dengan serangkaian tingkahmu yang tidak penting. Saat kau berhasil membuatku kehilangan mood bagus karena kau merusak apa pun rencana menyenangkan yang telah kususun. Aku juga teringat bagaimana kau muncul dengan tiba-tiba di dalam kamarku, mengagetkanku dan membuatku terbangun pagi dengan teriakanmu tepat di telingaku.
Aku mengingat semua itu, kak Rio. Aku mengingat semuanya. Tak satu pun waktu kebersamaan kita yang terlewat dari ingatanku. Aku mengingat setiap detail bagaimana kau mulai masuk ke dalam hidupku juga ke dalam hatiku.
”Dan sekarang saatnya gua pergi. Gua tahu, Fy, lo pasti girang banget deh gua pergi dari rumah ini. Nggak akan ada yang gangguin lo lagi. Ya, lo bisa tenang sekarang.” Kau kembali membuka mulutmu, membuatku kembali dari lamunanku ke detik-detik menjelang kepergianmu ini.
”Sekali lagi maaf, ya, Fy!”
”Thanks banget buat semuanya selama ini.”
Aku kemudian dapat merasakan gerakan tangan kananmu menyentuh puncak kepalaku dan sedikit mengacak rambutku. Aku masih diam tak bersuara, masih saja berpura-pura larut dalam tugasku. Tapi kau pasti tidak tahu bahwa air mataku sudah mulai menitik sejak tadi, sejak pikiranku melayang-layang ke masa-masa kebersamaanku denganmu.
Sekarang, air mataku terus meleleh dan turun deras melewati pipiku.
Aku beranjak dari dudukku. Tanpa sedikit pun menoleh ke belakang –ke arahmu–, aku langsung menghamburkan diri ke dalam kamarku yang terletak tepat di samping kamar yang sebentar lagi akan kautinggalkan.
Aku bisa mendengarmu menyerukan namaku. Kau pasti bingung melihat sikap anehku barusan. Aku tak peduli meskipun kudengar kau memanggilku beberapa kali. Dengan satu gerakan yang agak kasar, aku menutup pintu kamarku setelah aku memasukinya. Terdengar suara gebrakan pintu yang cukup keras saat pintu kamarku benar-benar tertutup rapat.
Aku terduduk di balik pintu. Bulir-bulir air mata terus saja berjatuhan tanpa bisa kucegah. Aku terus berusaha menghapus jejaknya di pipiku dengan kedua telapak tanganku tapi ternyata percuma saja. Kesedihan tetap saja menguasaiku.
Di sela tangisku yang belum juga mereda, kudengar suara lembutmu memanggilku dari balik pintu. Kau mengetuk pintu itu dengan perlahan sambil berkata, ”Fy, lo kenapa?”.
Aku harus menjawab apa? Apa aku harus mengatakan bahwa aku tidak suka semua kata-katamu tadi? Aku tidak suka permintaan maafmu. Aku tidak suka mendengar ucapan terima kasihmu. Aku tidak suka saat kau berkata bahwa aku akan sangat senang dengan kepergianmu. Aku tidak suka dengan semua itu karena kau membuatnya terkesan seperti sebuah perpisahan.
Perpisahan. Kenapa harus ada kata itu diantara kau dan aku?
”Kenapa lo harus pergi sih, Kak?”
Hanya kalimat tanya itu yang dapat kulontarkan untuk membalas tanyamu tadi. Itu sudah cukup kan untuk membuatmu mengerti apa yang terjadi denganku saat ini?
Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan diriku.
Kau diam. Aku rasa kau sudah mulai mengerti apa yang kumaksudkan.
”Ify, maaf.” Kau kembali menukaskan permintaan maafmu. Tahukah kau bahwa aku tidak menyukai kata maafmu itu?
Dulu aku memang selalu menantikan kata maaf terujar dari mulutmu. Itu dulu, saat aku masih menganggapmu sebagai makhluk asing pengganggu dengan kadar menyebalkan paling tinggi yang pernah kutemui. Tapi sekarang aku sudah terlanjur terbiasa dengan gangguanmu. Aku sudah terbiasa dengan tingkah menyebalkanmu. Aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu yang sebelumnya tidak kusukai di rumahku.
Kau memang menyebalkan. Sangat. Tapi aku sudah terlanjur terbiasa denganmu. Sekarang aku tak bisa membayangkan bagaimana aku tanpamu lagi di rumahku. Kepergianmu hanya akan membuatku merasa kehilangan, sebuah perasaan yang paling tidak ingin aku rasakan lagi. Sudah cukup sakitnya kehilangan yang kurasakan karena kepergian kak Angel dalam sebuah kecelakaan tahun lalu.
Aku tidak ingin kehilangan seseorang yang kusayangi lagi. Aku tidak ingin kehilanganmu karena aku sudah mulai menyayangimu, Kak. Kau menyebalkan tapi entah bagaimana saat berada di dekatmu aku merasa menjadi seorang adik lagi setelah kehilangan kakak tunggalku itu. Aku merasa memiliki seorang kakak lagi karena kehadiranmu.
”Fy, lo kan tahu, gua udah susah payah sampai akhirnya bisa keterima kuliah di sana. Nggak mungkin lah gua lepasin gitu aja. Tolong ngerti ya, Fy,” tambahmu setelah tak juga kaudengar aku merespon kata-katamu sebelumnya.
Aku masih diam tapi aku masih tetap di balik pintu itu, mendengarkanmu sambil berusaha menghentikan tangisku. Aku jadi teringat saat pertama kau membuatku menangis dulu. Saat itu kau dengan sengaja meletakkan seekor kecoa, binatang paling menjijikkan menurutku, di atas meja belajarku. Kau benar-benar menyebalkan tapi kemudian kau berjanji padaku takkan pernah membuatku menangis lagi. Kau bilang wajahku terlihat sangat jelek saat menangis.
Sekarang kau tahu kan bahwa kau sudah mengingkari janjimu itu?
Kau tidak berkata-kata lagi. Diam. Tapi aku yakin kau masih berada di balik pintu kamarku. Kaubiarkan hening berkuasa. Aku pun diam. Tak terdengar lagi isakanku.
Menit-menit berlalu. Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu yang kita lewatkan. Aku lalu memutuskan untuk beranjak bangun dari dudukku. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum meraih gagang pintu dan membuka pintu tersebut.
Kudapati kau berdiri tepat di hadapanku setelah pintu mengayun terbuka. Detik berikutnya aku sudah berada di pelukanmu kemudian aku berkata, ”hati-hati di jalan ya, Kak! Lo harus sering ngabarin gua kalo udah di sana. Jangan pernah lupain gua.”
Kau lalu melepaskan pelukanku. ”Gua janji nggak akan lupain lo,” balasmu disertai ulasan senyummu yang sangat manis.
*****
Satu tahun bukan waktu yang singkat, kan?
Di hari itu, hari kepergianmu untuk meneruskan studi ke Aussie, setengah hatiku masih berharap kauurungkan niatmu meninggalkanku saat itu. Setengah sisanya mengajakku untuk berusaha memahamimu. Memahami mimpimu. Memahami apa yang ingin kauraih untuk masa depanmu. Hingga akhirnya, walaupun rasanya berat sekali, aku membiarkan jarak ribuan kilometer membentang memisahkan kau dan aku.
Mulai saat itu, aku belajar tentang bagaimana menyanyangi seseorang. Kepergianmu membuatku mengerti bahwa menyayangi seseorang berarti bahagia melihat orang yang kita sayangi meraih mimpinya. Menyayangi seseorang berarti membiarkan ia mengepakkan sayap kebebasannya dan terbang menuju tempat impiannya. Kita tak bisa memaksakan takdir membuatnya terus berada di samping kita.
Kau tahu, Kak? Aku sangat senang karena kau menepati janjimu sesaat sebelum keberangkatanmu waktu itu. Janjimu untuk tidak akan pernah melupakanku. Dulu aku begitu takut akan merasakan lagi perasaan kehilangan yang begitu kubenci. Tapi hebatnya, kau membuatku tidak pernah merasa sendirian walaupun jelas-jelas kau tak lagi ada di sampingku. Kini aku tahu, hilangnya seseorang dari pandangan kita bukanlah masalah selama kita tidak menghilangkan orang itu dari hati kita.
Kau selalu ada dan menemaniku, Kak Rio. Selalu di hatiku.
Aku tersenyum sendiri melihat sepasang sepatu yang berada di rak penyimpanan sepatuku. Kuraih sepatu dengan warna merah –warna kesukaanku– yang mendominasi itu. Di bagian depan sepatu sebelah kanan tertulis kata ”Ify” sedangkan yang sebelah kiri tertulis kata ”bawel”. Itu sepatu yang kaulukis untukku. Itu adalah hadiah pemberian darimu saat ulang tahunku yang ke enam belas. Selain dua kata tadi dan gambar wajah semacam karikaturku yang kautoreh di atas sepatu yang awalnya polos itu, kau juga menggambarkan beberapa bintang berwarna kuning keemasan. Ya, kita memang suka melihat bintang bersama saat kita sama-sama mengalami insomnia tengah malam.
Suara bel rumah membuatku meletakkan kembali sepatu yang ada di tanganku. Seseorang berada di luar pagar dan menunggu pintu rumahku terbuka untuknya. Aku melirik jam dinding yang menggantung di dinding sebelah kiriku. Baru jam setengah tujuh pagi. Aku tersentak. Sepagi inikah? Masih terlalu pagi bukannya untuk bertamu?
Aku bergegas menuju luar rumah untuk segera tahu siapa pemencet bel tadi. Aku tidak langsung membuka pagar rumahku begitu melihat sosok yang tampak di balik pagar itu.
”Maaf, anda cari siapa ya?” tanyaku pada orang itu.
Orang berperawakan tinggi dan agak kurus dengan tas ransel di pundak kanannya itu menaikkan sebelah alisnya kemudian ia menjawab, ”oh, maaf, sepertinya saya salah alamat. Maaf, sudah mengganggu!”
Orang itu kemudian menarik kopernya, berbalik lalu melangkah pergi.
”Kak Rio....”
Kau pun berbalik. Kau melipat kedua tanganmu di depan dada sambil tersenyum nakal.
”Emang kita kenal ya?” tanyamu kemudian.
Aku langsung memasang wajah cemberut. ”Gitu ya... udah lupa nih sama gua?”
Kemudian kau tertawa. Senang sekali rasanya bisa melihatmu tertawa lagi.
Aku lalu membukakan pagar untukmu. Kau langsung melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah begitu pagar terbuka. Kau terus berjalan masuk tanpa mengindahkanku. Aku masih berdiri di luar rumah ketika kau sudah sampai di ruang tamu. Aku memandangi figurmu yang sudah sangat kuhafal setiap detailnya dari belakang. ”Kak Rio!” panggilku kemudian.
Kau membalikkan tubuhmu, tepat menghadap ke arahku dan menungguku bicara lagi.
”Gue sayang sama lo!”
*****
Hellloo!!!!!
17 Desember udah lewat nih, hari istimewaku telah
lewat, dan selamat berkurangnya umur Siti Fadhillah FaridaaaJ
Yaaaa, sepertii biasa dari tahun ke tahun dari
keluargaku gak pernah ada yang ngucapin apapun:’) sedih siii miriss pengen
nangiss banget rasanya tapi ya mau gimana lagi? But, masih ada orang orang yang
sayang sama gue ko, masih ada kaka kakan gue, masih ada sahabat sahabat gue,
masih ada temen terdekat gue:’)
Facebook, twitter,
banyak yang ngucapin “Happy birthday” banyak doa doanyaaa dan semoga aku
seperti apa yang mereka doakannn:’)aminn.
Tahun ini si emang gak special bener bener gak
special. Mau gimana? Pacar? Pacar gue yang ini emang bisa diharepin buat ngasih
surprise? Enggak. Sahabat? Mereka gak akan ngasih surprise apapun, mereka punya
kesibukan sendiri. Temen? Temen itu baru deket yang di SMA kan gamungkin.
Keluarga? Apalagi ini, gue berharap mereka ngucapin aja udah bersyukur apalagi
ngasih surprise bisaaaa senengg banget kali yah gue:’D *okesip ini lebay*
Bukannya berharap banget dapet surprise atau apalah
itu, Cuma memperbedakan dengan tahun kemarin:’) yang ada anak anak tekondo dateng
ke rumah, bawain kue ulang tahun *makeawish* , diceplokin telor, terigu sampe
lari lari, dan 3 ampe 4 kali ceplokkaaan, ini yang gue kangenninnn di ceplok
sama merekaaaa sahabat sahabat gueee:’)
Tahun ini ulang tahunnya bener-bener suram. Yang gue
gak dikasih jatah uangg sama bokap, dan pacar gue yang menghilang gak ada kabar
dari soree, sedih gak si luh? Lagi ulang tahun dia menghilang entah kemana bagaikan
setan *njir parah ini* dia juga ngasih kadonya gak special banget. Yang gue di sekolah, tau tau dia sms : :
Pebri: kamu dimana? Aku udah di sekolah nih.
Syifa : aku di ruang 401, kenapa?
Pebri: kamu bisa ke ruangan kelas aku gak? Aku ada
sesuatu buat kamu.
Syifa: ngapain? Aku aja gatau kelas kamu yang mana hahaha
*gak lama temennya lewat*
Ikbal: syif, itu technical meeting ruangannya disitu
kan?
Syifa: iyaaa, masuk aja, perwakilan dua orang juga
gaapapa. Pebri mana bal?
Ikbal: yaudah yuk wey masuk, pebri dikelas pojok. Yaudah
syif temenin masuk dulu ama luu.
Syifa: iyaudah oke *ke kelas pojok*
Ikbal: temenin gue masuk duluuuuu.
Syifa: bentarrrrr.
*depan kelas*
*buka pintu* syifa: pebrii! Apaaan?
Pebri: *nyamperin* sini aja gue kangen lu.
Syifa: apa kali lebay bego lu! Ada apaan si? Gece lah
gue mau osis nih.
Pebri: iyeiye *smblngeluarinkado* nih buat kamu
*ngasih jam tangan* happy birthday yaaaaa:* *cium kening*
Syifa: *diem* emm.. iyaa makasihh yaaaaJ
*pergi*
Gak so sweet kan? Gak seru juga. Gak WOW gitu wkwk
*apasi suka amat sama yang wow* hahah. Gak perlu apa apa si emng dari pacar
itu, cukup kesetiaan,kepercayaan,dan kasih sayang yang tulus buat gue:D *freek
abis* intinya gue biasa ajaa dikasih kado ama doi, maunya kado dari naufal
muzakky baru surprise banget buat gueeee *eh hahaha:’) udah bego syif MOVE-ON!!
Okesip lanjut~
satu satunya orang yang gue harepin ngucapin pertama
itu ya ka “THATA” kaka kakan gue tapi udah gue anggep kaka sendiri, bener bener
keluarga buat gue:* gue tungguuuuu tungggu seharian gak adaaaa sms apapun, gue
mkir apa dia lupa sama gue? Sama ulang tahun gue? Aaaaaaa pengen nangis rasanya
:’( ternyataaaaa dia ngerencanain sesuatuuuuuuu. Dia mau ngucapin jadi orang
yang terakhirrr *mungkin mau jadi yang terakhir kali yah buat gue* wkwk udah ah
udah. Jam 23:59 dia ngucapinnn selamat ulang tahun ke gueee dannn beserta doa
doanyaaaa :D disitu tuh rasanyaaa gueeee senengggggg, pengen nangisssss, tapi
apasiii lebay banget cuma dapet ucapan dari ka tata aja ampe kaya gini, siapa
DIA? *loh* haha justkiddd:* melafyuu ka erlytaaaaa{
intinyaaaa gue males sama 17 Desember 2012 tahun
ini. Suram njirr surammmmmmmmm!!!!! Bikinnn malesssssssss banget ada hari lahir
gue jadinya:’) berharap dari keluarga ada yang ngucapin, tapi ini? Enggak ada
sama sekaliii.fyuhhhhh~:’) tapi thankyoooouuu mah udah lahirin akuuu<3
lafyuuuuuuu:**
Minggu, 16 Desember 2012
JANJI
TERAKHIRR
Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan
tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan
yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku
sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia., meski dia
sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu, akupun
kehilangan sahabatku, aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku.
Aku akan tetap memaafkan Elga, meskipun dia sering menghianati cintaku.
“Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya kamu selingkuh! Kamu udah ngancurin kepercayaan aku!”
Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan Dia memelukku erat.
“Maafin aku Nilam, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji Nilam. Aku sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi!”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Elga, aku sangat mencintainya.
Malam ini Elga menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun biru pemberian Elga dan berdandan secantik mungkin. Kutemui Elga di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.
“Nilam, kamu cantik banget malam ini.”
“Makasih. Kita jadi dinner kan?”
“Ya tentu, tapi Nilam, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik Taksi?”
“Engga ko, ya udah kita panggil Taksi aja, ayo.”
Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Elga. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Elga menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Elga menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Elga perbuat padaku.
Kami berhenti disebuah Tenda di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Elga benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Elga, dia tidak mungkin mau makan di warung kecil di pinggir jalan.
“Kenapa El? Mienya gak enak?”
“Enggak ko, mienya enak, Cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini Nilam?”
“Enggak. Aku sering ko makan ditempat kaya gini. Mie ayamnya enak loch. Kamu kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”
Aku yakin, Elga gak pernah makan ditempat kaya gini. Tapi sepertinya Elga mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal.
Dua tahun bersama Elga bukan waktu yang singkat, dan tidak mudah untuk mempertahankan hubungan kami selama ini. Elga sering menghianati aku, bukan satu atau dua kali Elga berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku wanita bodoh yang mau dipermainkan oleh Elga. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.
Selesai makan Elga Nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.
“Apa dompetku ketinggalan di Taksi?”
“Yakin di saku gak ada?”
“Gak ada. Gimana dong?”
“ya udah, pake uang aku aja. Setiap jalan selalu kamu yang traktir aku, sekarang giliran aku yang traktir kamu. Ok!”
“ok. Makasih ya sayang, maafin aku.”
Saat di kampus, aku bertemu dengan Alin dan Flora. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir empat bulan kami tidak bersama, hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Alin menarik tanganku.
“Nilam, kamu sakit? Ko pucet sich?”
Alin bicara padaku, ini seperti mimpi, Alin masih peduli padaku.
“Engga, Cuma capek aja ko Lin. Kalian apa kabar?”
“Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sich dimainin sama cowok playboy kaya Elga! Jangan-jangan Elga gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.”
“Stop Flo! Kasian Nilam! Kamu kenapa sich Flo bahas itu mulu? Nilam kan gak salah.”
“Udah dech Alin, kamu diem aja! Harusnya kamu ngaca Nilam! Kenapa kamu diselingkuhin terus!”
Flora bener, jangan-jangan Elga gak sayang sama aku, Elga gak cinta sama aku, itu yang buat Elga selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Elga dan takut kehilangan Elga. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Elga padaku. Jika benar Elga tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.
Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Elga bersama seorang wanita. Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku. Mungkin Elga menghianatiku lagi. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat wanitaitu, sangat jelas, dia sahabatku, Flora….
Sungguh, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Elga. Akan ku pastikan, apa Elga akan jujur padaku atau dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubungi Elga.
“Hallo, kamu bisa jemput aku sekarang El?”
“Maaf Nilam, aku gak bisa kalo sekarang. Aku lagi nganter kakak, kamu gak bawa mobil ya?”
“Emang kakak kamu mau kemana El?”
“Mau ke…, itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?”
“El! Sejak kapan kamu mau nganter kakak kamu belanja? Sejak Flora jadi kakak kamu? Hah?!!”
“Nilam, kamu ngomong apa sayang? Kamu bilang sekarang lagi dimana?”
“Aku liat sendiri kamu pergi sama Flora El! Kamu gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin kamu El! Kenapa kamu harus selingkuh sama Flora El? Aku benci kamu! Mulai sekarang aku gak mau liat kamu lagi! Kita Putus El!”
“Nilam, ini gak…….”
Kubuang ponselku, kulaju mobilku dengan kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwa Elga tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.
Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Elga, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Elga datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Elga sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan Elga, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Elga yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari.
Hari ini kuputuskan untuk pergi kuliah, aku berharap tidak bertemu dengan Elga. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Elga ada dihadapanku.
“Maafin aku Nilam! Aku sama Flora gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Nilam!
“Kita udah putus El! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang kamu bebas! Kamu mau punya pacar Tujuh juga bukan urusan aku!”
“Tapi Nilam…..”
Aku berlari meninggalkan Elga, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Elga terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan…………
“Elgaaaa…..”
Elga tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepala Elga.
“Elga, maafin aku!”
“Nilam. Ma-af ma-af a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”
“Elgaaaaaa……”
Elga meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Elga semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Elga menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan.
Rasanya ingin sekali menemani Elga didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Satu minggu setelah Elga meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersama Elga yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyuman Elga, tatapan Elga, takan pernah bisa kulupakan.
“Nilam sayang, ini ada titipan dari Ibunya Elga. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biar Elga tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa!”
“Ini salah aku Bu. Aku butuh waktu.”
Kubuka bingkisan dari Ibu Elga, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.
“Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya kamu selingkuh! Kamu udah ngancurin kepercayaan aku!”
Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan Dia memelukku erat.
“Maafin aku Nilam, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji Nilam. Aku sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi!”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Elga, aku sangat mencintainya.
Malam ini Elga menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun biru pemberian Elga dan berdandan secantik mungkin. Kutemui Elga di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.
“Nilam, kamu cantik banget malam ini.”
“Makasih. Kita jadi dinner kan?”
“Ya tentu, tapi Nilam, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik Taksi?”
“Engga ko, ya udah kita panggil Taksi aja, ayo.”
Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Elga. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Elga menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Elga menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Elga perbuat padaku.
Kami berhenti disebuah Tenda di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Elga benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Elga, dia tidak mungkin mau makan di warung kecil di pinggir jalan.
“Kenapa El? Mienya gak enak?”
“Enggak ko, mienya enak, Cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini Nilam?”
“Enggak. Aku sering ko makan ditempat kaya gini. Mie ayamnya enak loch. Kamu kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”
Aku yakin, Elga gak pernah makan ditempat kaya gini. Tapi sepertinya Elga mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal.
Dua tahun bersama Elga bukan waktu yang singkat, dan tidak mudah untuk mempertahankan hubungan kami selama ini. Elga sering menghianati aku, bukan satu atau dua kali Elga berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku wanita bodoh yang mau dipermainkan oleh Elga. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.
Selesai makan Elga Nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.
“Apa dompetku ketinggalan di Taksi?”
“Yakin di saku gak ada?”
“Gak ada. Gimana dong?”
“ya udah, pake uang aku aja. Setiap jalan selalu kamu yang traktir aku, sekarang giliran aku yang traktir kamu. Ok!”
“ok. Makasih ya sayang, maafin aku.”
Saat di kampus, aku bertemu dengan Alin dan Flora. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir empat bulan kami tidak bersama, hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Alin menarik tanganku.
“Nilam, kamu sakit? Ko pucet sich?”
Alin bicara padaku, ini seperti mimpi, Alin masih peduli padaku.
“Engga, Cuma capek aja ko Lin. Kalian apa kabar?”
“Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sich dimainin sama cowok playboy kaya Elga! Jangan-jangan Elga gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.”
“Stop Flo! Kasian Nilam! Kamu kenapa sich Flo bahas itu mulu? Nilam kan gak salah.”
“Udah dech Alin, kamu diem aja! Harusnya kamu ngaca Nilam! Kenapa kamu diselingkuhin terus!”
Flora bener, jangan-jangan Elga gak sayang sama aku, Elga gak cinta sama aku, itu yang buat Elga selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Elga dan takut kehilangan Elga. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Elga padaku. Jika benar Elga tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.
Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Elga bersama seorang wanita. Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku. Mungkin Elga menghianatiku lagi. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat wanitaitu, sangat jelas, dia sahabatku, Flora….
Sungguh, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Elga. Akan ku pastikan, apa Elga akan jujur padaku atau dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubungi Elga.
“Hallo, kamu bisa jemput aku sekarang El?”
“Maaf Nilam, aku gak bisa kalo sekarang. Aku lagi nganter kakak, kamu gak bawa mobil ya?”
“Emang kakak kamu mau kemana El?”
“Mau ke…, itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?”
“El! Sejak kapan kamu mau nganter kakak kamu belanja? Sejak Flora jadi kakak kamu? Hah?!!”
“Nilam, kamu ngomong apa sayang? Kamu bilang sekarang lagi dimana?”
“Aku liat sendiri kamu pergi sama Flora El! Kamu gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin kamu El! Kenapa kamu harus selingkuh sama Flora El? Aku benci kamu! Mulai sekarang aku gak mau liat kamu lagi! Kita Putus El!”
“Nilam, ini gak…….”
Kubuang ponselku, kulaju mobilku dengan kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwa Elga tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.
Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Elga, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Elga datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Elga sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan Elga, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Elga yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari.
Hari ini kuputuskan untuk pergi kuliah, aku berharap tidak bertemu dengan Elga. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Elga ada dihadapanku.
“Maafin aku Nilam! Aku sama Flora gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Nilam!
“Kita udah putus El! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang kamu bebas! Kamu mau punya pacar Tujuh juga bukan urusan aku!”
“Tapi Nilam…..”
Aku berlari meninggalkan Elga, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Elga terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan…………
“Elgaaaa…..”
Elga tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepala Elga.
“Elga, maafin aku!”
“Nilam. Ma-af ma-af a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”
“Elgaaaaaa……”
Elga meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Elga semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Elga menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan.
Rasanya ingin sekali menemani Elga didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Satu minggu setelah Elga meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersama Elga yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyuman Elga, tatapan Elga, takan pernah bisa kulupakan.
“Nilam sayang, ini ada titipan dari Ibunya Elga. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biar Elga tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa!”
“Ini salah aku Bu. Aku butuh waktu.”
Kubuka bingkisan dari Ibu Elga, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.
Dear Nilam,
Nilam sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo Cuma kamu yang terbaik buat aku, Cuma kamu yang aku cinta.
Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita.
Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu Nilam.
Nilam sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo Cuma kamu yang terbaik buat aku, Cuma kamu yang aku cinta.
Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita.
Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu Nilam.
Love You
Elga
Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Elga, aku berlari menghampiri Ibu dan memeluknya.
“Bu, aku udah nikah sama Elga!”
“Nilam, kenapa sayang?”
“Ini!” Kutunjukan cincin pemberian Elga dijari manisku.
“Nilam, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!”
“Sekarang aku mau cerai sama Elga Bu!” kulepas cincin pemberian Elga dan memberikannya pada Ibu.
“Aku titip cincin pernikahanku dengan Elga Bu! Ibu harus menjaganya dengan baik!”
Ibu memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.
;;
Subscribe to:
Komentar (Atom)

