Minggu, 16 Desember 2012
Bintang
Hati
Dinginnya malam menyentuh dan
memelukku dengan erat. Bukan malam lagi, tapi dini hari. Di bawah hamparan
bintang yang bertebaran dengan bulan sebagai bintang paling terang, kurangkai
bintang-bintang kecil yang berkerlip menjadi huruf-huruf yang kususun sebagai
namamu. Nama yang akan terus terkenang dalam hati, hanya dalam hati, hatiku.
Ingat tempat ini? Tempat dimana kita bisa merasa dekat dengan bintang? Bintang penghias malam yang akan dengan setia menghiasi malam walaupun hujan terkadang menyembunyikannya. Tempat yang paling istimewa untuk kita. Terkenangkah dalam hatimu?
"Kemana?" Tanyaku begitu aku masuk ke dalam mobil honda jazz sporty warna merah menyala milikmu. Aku mampu menangkap lirikan matamu yang tajam, dingin, namun membius itu. Tangan kekarmu menyentuh puncak kepalaku lalu menyentuhnya dengan kelembutanmu.
"Bukit bintang" Katamu santai, tatapan yang lurus kedepan fokus pada jalanan aspal yang menghitam sehabis hujan.
"Bukit bintang? Kamu bercanda? Mana ada bukit yang namanya bukit bintang? Itu hanya nama khayalan dalam cerita-cerita karena penulisnya kehabisan ide untuk memberi nama sebuah bukit" Protesku manja. Benarkan kataku? Bukit dengan nama bukit bintang itu hanya ada dalam cerita-cerita remaja, dimana bukit bintang biasanya digunakan untuk menambah sisi romantis dalam sebuah cerita. Lebih tepatnya, penulis kehabisan ide untuk memberi nama sebuah bukit.
"Lihat saja nanti. Bukit bintang itu memang ada. Terserah deh percaya atau enggak" Katamu santai. Tatapan yang tetap fokus kedepan menambah kesan serius dari wajah oriental milikmu.
Hening. Dalam mobil hanya terdengar lantunan suara Katy Pery mengalunkan lagu E.T selain itu tak ada lagi. Aku sering mencuri pandang kearahmu dan saat itu aku akan tersenyum kecil. Entahlah, tapi aku merasa bahwa dalam dirimu selalu terpancar pesona yang aku tak tahu itu apa namun mampu membuat semua orang disekelilingmu tersenyum, tak hanya aku.
"Nggak usah gitu ah lihatin akunya. Sering banget sih ngelihatin aku terus senyum-senyum sendiri" Kamu membuyarkan lamunanku. Aku sedikit tersentak, namun membenarkan kata-katamu. Aku sering melihat kamu dan sering tersenyum karenanya.
"Apaan sih, pede banget" Elakku. Bagaimanapun juga, walaupun kamu tahu aku sering curi pandang ke arah wajah tampan milikmu, tapi aku tetap saja tak ingin mengakuinya, aku gengsi.
"Iya iya yang nggak mau ngaku. Nggak papa kok lihatin aku begitu. Asal enggak lihatin cowok lain dengan tatapan yang sama aja" Katamu ringan tak elak membuatku memukul lenganmu. Dan saat itu, kamu membalas perlakuanku dengan elusan lembut di kepalaku.
"Aku sayang kamu" Katamu, kali ini kamu menatapku dengan dalam. Aku mengangguk, mengiyakan. Bahwa aku juga menyayangimu seperti kamu menyayangi aku, bahkan lebih.
"Sayang kamu" Kataku.
Hening kembali. Ada lantunan kecil dari music player, tapi aku tak tahu lagu apa dan siapa yang melantunkannya.
Hingga mobil terhenti. Kamu membuka seatbelt lalu keluar dan membuka pintu sebelahku. Aku keluar dari dalam mobil karena tarikan halus dari tanganmu. Udara dingin langsung menyusup dan memelukku. Mungkin kamu sadar bahwa aku kedinginan, kamu melepas jaket merah marun milikmu lalu memberikannya padaku.
Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Gelap. Tapi ada banyak cahaya dari bawah sana. Cahaya kota dimalam hari, indah. Yang tak kalah indah adalah saat aku menengadahkan kepalaku, ribuan bintang atau bahkan ratus ribuan bintang terpeta jelas dalam penglihatanku. Aku tersenyum puas.
"Ini bukit bintang. Bukit dimana kamu akan merasa lebih dekat dengan bintang, atau bahkan kamu serasa bisa meraih bintang dalam nyatamu" Katamu, mengalungkan tangan kananmu pada bahuku. Merapatkan tubuhku pada tubuhmu. Membuatku menjadi lebih hangat lagi.
"Aku percaya bahwa bukit bintang itu memang ada" Kataku, mengeratkan tanganku pada lengan kekar milikmu.
Kamu menghadapkan tubuhmu pada tubuhku. Mengenggam erat jemari-jemariku, lalu mengecup keningku sebentar.
"Bintang yang lebih terang dari semua bintang, yang selalu bersinar dan tak pernah padam sekalipun mentari mengantikan bulan, bintang itu adalah kamu. Aku akan menjaga sinarmu agar tetap terang. Aku sayang kamu" Katamu lalu mengecup keningku sekali lagi.
"Aku juga sayang kamu. Aku akan terus menjadi bintangmu, yang akan terus bersinar untukmu, selalu" Kataku lalu memeluk tubuh atletis milikmu. Aku merasakan sebuah kecupan mendarat di puncak kepalaku. Aku sayang kamu.
Lalu, aku dan kamu duduk di hamparan rumput yang menghijau. Meski sedikit basah karena embun, tapi aku tak lagi merasa dingin karena ada kamu, kamu yang akan membuat bintangmu selalu bersinar.
Saat aku melihat gesekan kecil di langit yang menghasilkan kilatan cahaya yang kusebut itu bintang jatuh, aku menutup mataku. Berdoa kepada Tuhan agar aku bisa selalu bersamamu, selalu. Harapan kecil, tapi itu yang aku inginkan. Bersama denganmu, selalu. Agar bintang tetap selalu bersinar.
Kamu ingat malam itu? Kamu mengenalkan aku bukit bintang. Lalu kamu menyebutku bintangmu. Ingatkah kamu? Aku tak memaksamu jika kamu tak mampu mengingatnya, tapi setidaknya ada sisa kenangan yang terpatri dalam hatimu. Semoga...
Aku mengeluarkan selembar kertas yang terlipat-lipat dari dalam saku jaket merah marun milikmu. Sebuah lukisan. Ingatkah kamu? Terlukis dua orang, lelaki dan perempuan yang duduk saling membelakangi, dengan langit penuh bintang, dan sebuah tarikan panjang kuas yang kamu gunakan yang kamu sebut itu adalah bintang jatuh? Ingatkah kamu hal kecil ini?
"Baguskan? Ini aku sama kamu di bukit bintang" Katamu sambil menyodorkan selembar kertas dengan gambar yang kamu lukis sendiri.
"Iya deh yang suka ngelukis. Bagus kok. So sweet" Kataku, merampas gambaranmu. "Buat aku ya" Pintaku dan kamu mengangguk mengiyakan.
"Aku cuma mau kamu ingat terus sama aku, sama bintang-bintang yang bersinar, sama harapan kita waktu bintang jatuh, sayang aku sama kamu" Aku mengangguk. Aku akan mengingatnya. Mengingat segala hal tentang kamu, hingga bagian paling sederhana sekalipun.
"Tentu saja aku akan selalu mengingatmu" Aku merogoh tas tangan warna cokelat muda. Aku mengambil sebuah kotak kecil dari kain kusuh warna hijau tosca. "Aku ada sesuatu buat kamu" Aku membuka kotak kecil itu. Menarik sebuah benda dari dalamnya, meraih jemarimu, dan memasangkan benda melingkar kecil dengan aksen sebuah bintang dan huruf A pada jari manis tangan kirimu.
Kamu mengambil benda kecil yang sama dari dalam kotak yang aku pegang. Melakukan hal yang sama yang sebelumnya telah aku lakukan.
"A untuk Alvin dan A untuk Agni. Untuk bintang yang paling terang" Katamu lalu mengecup keningku. Aku memelukmu, tak ingin melepaskanmu, ingin tetap bersamamu.
Kamu ingat cincin yang aku kenakan ini? Cincin dengan aksen bintang dan huruf sebagai inisial nama kita? Kamu ingat kapan terakhir kalinya memakai cincin ini? Atau kamu telah membuangnya? Apa kamu masih mengingat hal-hal kecil tentang kita seperti aku yang masih mengingatnya?
Dinginnya dini hari semakin memelukku. Kueratkan jaket yang aku kenakan. Dingin, sendiri. Seperti dunia yang tak berpihak untuk melihatku bahagia. Aku tak bisa seperti dulu lagi dimana akan ada orang yang dengan setia mengulurkan tangannya, mengenggam jemariku, memelukku, mengecup keningku. Tak ada lagi aku, kamu, dan cinta. Semua hilang, hilang bersama waktu. Waktu yang ingin aku kembalikan lagi seperti dulu, tapi aku tak pernah bisa. Selamanya.
Aku merogoh saku celana jeans abu-abu yang aku kenakan. Mengambil handphone touch screen milikku, membuka media lalu menekan menu musik. Satu-satunya lagu yang masih setia dari dulu menghiasi handphone kesayanganku ini ku mainkan. Nada pelan yang kembali membuka tabir memori akan dirimu. Ingatkah kamu?
Selama dunia berputar
Cintaku takkan pernah memudar
Padamu oh bintang hidupku
Yang slalu terangi malamku
Dengan gitar klasik yang kamu bilang berasal dari mamamu, kamu memainkan lagu yang sebenarnya adalah lagu wanita itu dengan sempurna. Versi akustikmu menurutku jauh lebih bagus dari versi aslinya. Dengan senyum dingin yang sesekali kamu kembangkan, hatiku terasa bergetar saat melihatnya. Kamu tahu, sekalipun kita sering bersama tapi senyumanmu selalu menggetarkan hatiku.
Selama sang surya bersinar
Cintaku kan slalu berpijar
Padamu kekasih hatiku
Yang slalu hiasi cerita di dalam hidupku
Kamu tahu? Aku merasa menjadi wanita paling beruntung karena memilikimu. Munafik jika aku bilang bukan karena kesempurnaanmu, tapi bukan itu yang terpenting bagiku. Karena yang paling utama adalah hatimu yang kamu berikan sepenuhnya untukku.
Kamu, aku, satu slalu
Kamu, aku, satu
Selamanya sampai diakhir waktu
Kamu, aku, satu. Aku harap, dari lagu itu bukan hanya menjadi sekedar harapan. Tapi sebuah kenyataan paling indah untuk kita di masanya. Nanti. Semoga.
Segalanya takkan mungkin terjadi
Dirimu kan slalu lindungi
Oh agungnya cinta kita berdua
Tuk Slalu selamanya bersama dalam hidup ini
Kamu kembali mengembangkan senyumanmu. Senyuman dingin yang tipis. Tahukah kamu bahwa aku bahagia karena sering melihat senyumanmu itu? Kamu tahu aku beruntung? Semoga kamu seberuntung itu karena memilikiku.
Kamu, aku, satu slalu
Kamu, aku, cinta
Selamanya sampai diakhir waktu
Kamu, aku, selamanya satu
Kamu, aku, selamanya cinta
Selamanya sampai diakhir waktu
Selamanya sampai diakhir waktu
(Kamu, Aku, Cinta - Lala Karmela)
Sampai nanti, semoga ada kisah kita. Kisah tentang aku dan kamu. Tentang cinta kita. Kamu, aku, cinta...
Aku melenguh panjang. Sampai kapan aku terus begini? Terus berada dalam cinta yang tak lagi ada, lebih tepatnya cinta yang telah mati. Bukan dihatiku tapi hatimu. Kenapa aku masih mengharapkan kamu yang jelas-jelas kemungkinan mengingat semuanya pun sangat kecil atau bahkan tidak mungkin. Aku memang menyayangimu, tapi kamu? Kemana kamu, aku, dan cinta kita? Kemana semua harapan kita? Kenapa semuanya serba tak mungkin...
Bahkan waktu yang tiba-tiba merengutmu, aku sampai saat ini belum percaya. Karena, walaupun kamu ada tapi seluruh jiwamu telah mati. Mati bersama seluruh cinta yang dulu indah, dan aku harus merelakan kamu bersama dia. Cinta masa lalumu. Tapi salahkah aku yang masih berharap, kamu setidaknya masih mengingat aku? Karena hanya dalam hatiku, aku mampu mengucapkan semua harapanku. Termasuk, untuk kesembuhanmu yang tak lagi mungkin.
Untuk hal kali ini, walaupun hal besar tapi aku yakin bahwa kamu sangat tidak mengingatnya. Bahkan kamu memang tidak dipaksa untuk mengingatnya. Semuanya pasrah, tapi tetap berharap. Berharap akan sebuah hal yang tak lagi mungkin...
'Tunggu aku bentar lagi ya, aku masih di jalan soalnya' Katamu via telpon saat itu. Aku melirik arlogi merah yang melingkar manis pada pergelangan tangan kiriku. Sudah 15 menit yang lalu sebenarnya waktu yang kamu janjikan untuk bertemu di Cafe Real ini. Bahkan mocha yang ada di hadapanku tinggal separuh.
'Iya ngga papa. Hati-hati' Kataku. Aku masih menunggu. Bahkan hingga sejam kemudian. Telah ada 2 cangkir mocha di hadapanku. Tapi kemana kamu? Aku mencoba mengirimkan pesan singkat padamu tapi semua tak terkirim. Mencoba menelpon, tapi tak aktif. Kamu tahu, bahwa saat itu segala hal negatif tentangmu tiba-tiba saja muncul dalam benakku. Apakah kamu baik-baik saja?
Lalu handphoneku bergetar. Bukan panggilan dari kamu, tapi dari kakakmu. Aku semakin takut, entah mengapa...
'Ya kak'
'Alvin kecelakaan, sekarang kamu mendingan ke Rumah Sakit Kartika' Kata kakakmu waktu itu yang langsung membuatku sakit. Kenapa dugaanku benar? Kenapa harus kecelakaan.
Aku bergegas menuju rumah sakit, bertanya pada reseptionist dimana ruanganmu. Di lorong rumah sakit tempat kamu dirawat, semuanya begitu sepi. Bahkan di depan kamarmu, dimana ada mama dan kakak lelakimu, tak ada tangisan yang berarti. Lalu haruskah aku menangis?
"Tante" Mamamu memelukku. Membelai rambutku yang tergerai.
"Alvin baik-baik saja" Aku menghela nafas lega. Syukur kamu baik-baik saja. Tapi ucapan mamamu, kenapa menggantung menurutku?
"Dia amnesia" Begitu kakakmu menyebut penyakit apa yang kamu derita, mamamu terduduk di bangku panjang dan menangis. Aku tak percaya. Satu-satunya yang aku tanyakan adalah apa kamu mengingat aku?
"Dia hanya bisa mengingat hal-hal kecil di masa lalunya" Lanjut kakakmu.
Bersamaan dengan seorang dokter muda dengan name tag Mario keluar dari ruanganmu "Alvin sudah sadar, tapi saya mohon jangan ingatkan dia tentang kehidupannya. Terlebih memaksa dia untuk mengingat. Kecuali jika kalian memang ingin memperparah keadaan Alvin. Saya permisi, jika ada apa-apa, silakan panggil saya atau perawat" Dokter Mario beranjak diikuti dua orang perawat dibelakangnya.
Aku, mamamu, dan kakakmu masuk ke dalam ruangan bernuansa putih, kamar rawatmu. Kamu memang telah sadar dan tampak baik-baik saja. Tapi ketakutan menghampiriku, ingatkah kamu padaku?
"Mama sama kak Cakka bawa siapa?" Kalimat itu yang pertama kali kamu ucapkan. Kamu tahu? Itu membuatku hancur. Kamu memang tak mengingatku, atau memang bercanda seperti yang sering kamu lakukan?
"Kamu tidak ingat? Ini Agni, teman kakak" Kata kakakmu, berbohong. Kamu hanya menggeleng.
"Maaf" Katamu dan aku hanya mengangguk. Tak apa, mungkin waktu yang akan menyadarkanmu untuk mengingatku kembali.
"Loh ma, Shilla mana? Dia tahu kalau aku sakit kan? Masa pacarnya sakit dia engga ada sih" Saat kamu mengatakan itu, hatiku sangat sakit. Bagaimana tidak? Kamu mengatakan bahwa Shilla itu pacarmu, tapi itu setahun yang lalu sebelum Shilla memilih berselingkuh dengan Gabriel dan akhirnya kamu memutuskannya.
Aku berlari keluar, aku tak mau lagi mendengar kenyataan yang jauh lebih sakit lagi dari ini.
Kamu tahu, hal yang lebih menyakitkan dari ini adalah saat kamu dan Shilla berpacaran lagi. Kamu tahu, itu sakit sekali. Apalagi, tatapan Shilla yang selalu mengejek jika bertemu denganku. Kamu tahu juga, bahwa Shilla sering ingin merebutmu dariku tapi tak pernah bisa karena kamu lebih memilihku, tapi sekarang Shilla mendapatkanmu dengan cara seperti ini. Kamu tahu, aku sangat kecewa dengan keputusan Tuhan untuk hidupmu.
Dalam sebuah film yang pernah aku tonton mengatakan bahwa kesedihan dan kebahagiaan itu datangnya satu paket. Tapi mana kebahagiaan yang aku terima? Apakah kesembuhanmu? Aku tak bisa mengatakan sepenuhnya itu adalah kebahagiaanku, tak bisa.
Aku merasakan embun yang kian membasahi. Jaket merah marun yang aku minta darimu pun telah basah. Dingin yang semakin menyusup tak membuatku beranjak. Bahkan, aku menangis. Menangis karenamu. Ingatkah kamu bahwa kamu pernah menghapus air mataku dengan jari-jarimu? Pernahkah sempat terlintas dalam bayanganmu bahwa, aku menangisimu? Ahhh... Bahkan kamu tak ingat siapa aku. Tapi... Seperti inikah orang amnesia? Sepenuhnya melupakan hal-hal yang memang terlupakan? Tidakkah ada hal kecil yang menyusup dalam hatimu dan sedikit terasa bahwa kamu mengalaminya? Atau, semua memang harus terlupakan?
Aku tak tahu lagi. Hatiku sakit mengingatmu. Tapi dengan mengingatmu, aku ingat saat dimana aku memang merasa bahagia dengan akhir yang tidak aku harapkan. Lalu sekarang aku harus apa? Merelakanmu? Melupakanmu? Membunuhmu dari pikiranku? Aku terlalu menyayangimu untuk melakukan itu. Aku tak bisa. Entah sampai kapan.
Aku menatap langit. Gesekan kecil yang menimbulkan cahaya sedikit terang terpeta jelas dalam pandanganku. Aku menutup mata. Tuhan, jika dia memang tercipta untukku hadirkanlah dia kembali dalam hidupku, jika dia bukan untukku ijinkan dia mengingat aku dan aku akan melepaskannya untuk orang yang dia sayang, agar dia bahagia bersama pilihannya.
Aku membuka mataku. Menghapus air mata yang tergenang dalam pelupuk mataku. Aku mengambil nafas panjang. Dingin, lebih dingin lagi. Aku berdiri, memasukkan kedua tanganku dalam saku jaket.
"Ngelihat hamparan bintang itu ngga enak kalau sendiri" Kamu duduk di sampingku, di bangku kayu panjang taman kota.
"Nggak ada yang suka bintang kaya aku" Jawabku sambil menoleh ke arahmu, memperhatikan lekukan wajah tampan milikmu.
"Aku suka bintang. Menurutku malam nggak akan indah tanpa hamparan bintang yang tak beraturan. Bulan akan kesepian tanpa bintang. Dan tak akan ada harapan jika tak ada bintang jatuh" Katamu diplomatis. Aku tersenyum kecil.
"Bintang tak akan beranjak dari malam dan siang, akan tetap pada tempatnya hanya saja bintang sering memberikan tempatnya untuk yang lain agar bisa menyapa dunia" Balasku.
"Aku Alvin" Kamu menyodorkan tangan kananmu.
"Agni" Membalas sodoran tanganmu.
Ingat? Pertemuan kita bertemu, bukan di bukit ini memang tapi di taman kota pertengahan bulan di bulan yang kering 6 bulan yang lalu, Juni.
"Di bawah hamparan bintang, aku cuma pengen bilang kalau aku sayang kamu" Katamu padaku malam itu, di bulan ke tujuh, Juli.
"Aku juga sayang kamu" Kataku.
Di bulan Juli itu, kita berpacaran. Ingat? Dan di bulan ini Desember semuanya harus aku akhiri. Bukan keinginanku, tapi keinginan waktu yang kurasa tak mengijinkan kita untuk bersatu.
Ahhh, sudahlah aku tak ingin memaksakan kamu lagi untuk mengingat semua ini. Aku percaya bahwa ini akan jadi yang terbaik buat kamu. Apapun yang terjadi, yang sudah, sedang, dan akan, kupercayakan semua ini pada Tuhan, sepenuhnya.
Aku duduk kembali. Mengambil selembar kertas dan pulpen dari dalam tas tanganku. Aku menghela nafas...
Aku bukan lagi bintang
Tak ada sinar yang lagi menyinariku
Tak ada dunia yang menerimaku
Tak ada lagi tempat untukku berdiam
Namun ada bintang lain
Dengan sinar yang terus berpijar
Dengan dunia yang menerimanya
Dengan tempat yang luas untuknya
Aku sekarang hanyalah bintang jatuh
Yang tak akan mengangkasa lagi
Yang tak akan berharap mengudara kembali
Yang akan menerima tempatku yang baru
Aku tak akan memaksa sinar memberiku cahaya
Tak akan meminta dunia menerimaku kembali
Tak akan memohon untuk kembali lagi
Aku akan tetap menjadi bintang, bintang jatuh
Tapi percayalah
Aku akan ada dalam hatimu
Karena aku terjatuh dalam hatimu
Akulah bintang hati
(Bintang Hati)
Aku mengambil kotak kecil dari dalam tas tanganku. Membuka kotak kecil berwarna cokela tua itu. Memasukkan lukisanmu, puisi asal yang baru saja kubuat, dan cincin beraksen bintang dengan huruf A. Aku memasukkan kembali kotak itu dalam tas tanganku. Tenang saja, aku tak akan membuangnya. Aku hanya akan menyimpannya dan menguburnya.
Aku berdiri, melangkahkan kaki menuruni bukit. Kulirik arlogi merah pada pergelangan tanganku 03.19. Sudah pagi ternyata. Dingin yang semakin memelukku memaksaku untuk cepat beranjak. Aku menatap langit dahulu sebelum masuk dalam Picanto hitamku. Aku tersenyum.
^^
"Bintang yang lebih terang dari semua bintang, yang selalu bersinar dan tak pernah padam sekalipun mentari mengantikan bulan, bintang itu adalah kamu. Aku akan menjaga sinarmu agar tetap terang. Aku sayang kamu" Kamu memelukku dari belakang, satu tangan melingkar di perutku dan satu tangan yang lain menyentuh kepalaku.
"Aku sayang kamu" Kataku.
Yang aku tahu, Tuhan mengabulkan permintaanku.
Kau jadikan aku ini
Wanita yang kau pilih
Untuk jadi kekasihmu
Dan kau pun tlah aku minta
Setia sepertiku
Hingga waktunya tiba
(Wanita yang Kau Pilih - Rossa)
Ingat tempat ini? Tempat dimana kita bisa merasa dekat dengan bintang? Bintang penghias malam yang akan dengan setia menghiasi malam walaupun hujan terkadang menyembunyikannya. Tempat yang paling istimewa untuk kita. Terkenangkah dalam hatimu?
"Kemana?" Tanyaku begitu aku masuk ke dalam mobil honda jazz sporty warna merah menyala milikmu. Aku mampu menangkap lirikan matamu yang tajam, dingin, namun membius itu. Tangan kekarmu menyentuh puncak kepalaku lalu menyentuhnya dengan kelembutanmu.
"Bukit bintang" Katamu santai, tatapan yang lurus kedepan fokus pada jalanan aspal yang menghitam sehabis hujan.
"Bukit bintang? Kamu bercanda? Mana ada bukit yang namanya bukit bintang? Itu hanya nama khayalan dalam cerita-cerita karena penulisnya kehabisan ide untuk memberi nama sebuah bukit" Protesku manja. Benarkan kataku? Bukit dengan nama bukit bintang itu hanya ada dalam cerita-cerita remaja, dimana bukit bintang biasanya digunakan untuk menambah sisi romantis dalam sebuah cerita. Lebih tepatnya, penulis kehabisan ide untuk memberi nama sebuah bukit.
"Lihat saja nanti. Bukit bintang itu memang ada. Terserah deh percaya atau enggak" Katamu santai. Tatapan yang tetap fokus kedepan menambah kesan serius dari wajah oriental milikmu.
Hening. Dalam mobil hanya terdengar lantunan suara Katy Pery mengalunkan lagu E.T selain itu tak ada lagi. Aku sering mencuri pandang kearahmu dan saat itu aku akan tersenyum kecil. Entahlah, tapi aku merasa bahwa dalam dirimu selalu terpancar pesona yang aku tak tahu itu apa namun mampu membuat semua orang disekelilingmu tersenyum, tak hanya aku.
"Nggak usah gitu ah lihatin akunya. Sering banget sih ngelihatin aku terus senyum-senyum sendiri" Kamu membuyarkan lamunanku. Aku sedikit tersentak, namun membenarkan kata-katamu. Aku sering melihat kamu dan sering tersenyum karenanya.
"Apaan sih, pede banget" Elakku. Bagaimanapun juga, walaupun kamu tahu aku sering curi pandang ke arah wajah tampan milikmu, tapi aku tetap saja tak ingin mengakuinya, aku gengsi.
"Iya iya yang nggak mau ngaku. Nggak papa kok lihatin aku begitu. Asal enggak lihatin cowok lain dengan tatapan yang sama aja" Katamu ringan tak elak membuatku memukul lenganmu. Dan saat itu, kamu membalas perlakuanku dengan elusan lembut di kepalaku.
"Aku sayang kamu" Katamu, kali ini kamu menatapku dengan dalam. Aku mengangguk, mengiyakan. Bahwa aku juga menyayangimu seperti kamu menyayangi aku, bahkan lebih.
"Sayang kamu" Kataku.
Hening kembali. Ada lantunan kecil dari music player, tapi aku tak tahu lagu apa dan siapa yang melantunkannya.
Hingga mobil terhenti. Kamu membuka seatbelt lalu keluar dan membuka pintu sebelahku. Aku keluar dari dalam mobil karena tarikan halus dari tanganmu. Udara dingin langsung menyusup dan memelukku. Mungkin kamu sadar bahwa aku kedinginan, kamu melepas jaket merah marun milikmu lalu memberikannya padaku.
Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Gelap. Tapi ada banyak cahaya dari bawah sana. Cahaya kota dimalam hari, indah. Yang tak kalah indah adalah saat aku menengadahkan kepalaku, ribuan bintang atau bahkan ratus ribuan bintang terpeta jelas dalam penglihatanku. Aku tersenyum puas.
"Ini bukit bintang. Bukit dimana kamu akan merasa lebih dekat dengan bintang, atau bahkan kamu serasa bisa meraih bintang dalam nyatamu" Katamu, mengalungkan tangan kananmu pada bahuku. Merapatkan tubuhku pada tubuhmu. Membuatku menjadi lebih hangat lagi.
"Aku percaya bahwa bukit bintang itu memang ada" Kataku, mengeratkan tanganku pada lengan kekar milikmu.
Kamu menghadapkan tubuhmu pada tubuhku. Mengenggam erat jemari-jemariku, lalu mengecup keningku sebentar.
"Bintang yang lebih terang dari semua bintang, yang selalu bersinar dan tak pernah padam sekalipun mentari mengantikan bulan, bintang itu adalah kamu. Aku akan menjaga sinarmu agar tetap terang. Aku sayang kamu" Katamu lalu mengecup keningku sekali lagi.
"Aku juga sayang kamu. Aku akan terus menjadi bintangmu, yang akan terus bersinar untukmu, selalu" Kataku lalu memeluk tubuh atletis milikmu. Aku merasakan sebuah kecupan mendarat di puncak kepalaku. Aku sayang kamu.
Lalu, aku dan kamu duduk di hamparan rumput yang menghijau. Meski sedikit basah karena embun, tapi aku tak lagi merasa dingin karena ada kamu, kamu yang akan membuat bintangmu selalu bersinar.
Saat aku melihat gesekan kecil di langit yang menghasilkan kilatan cahaya yang kusebut itu bintang jatuh, aku menutup mataku. Berdoa kepada Tuhan agar aku bisa selalu bersamamu, selalu. Harapan kecil, tapi itu yang aku inginkan. Bersama denganmu, selalu. Agar bintang tetap selalu bersinar.
Kamu ingat malam itu? Kamu mengenalkan aku bukit bintang. Lalu kamu menyebutku bintangmu. Ingatkah kamu? Aku tak memaksamu jika kamu tak mampu mengingatnya, tapi setidaknya ada sisa kenangan yang terpatri dalam hatimu. Semoga...
Aku mengeluarkan selembar kertas yang terlipat-lipat dari dalam saku jaket merah marun milikmu. Sebuah lukisan. Ingatkah kamu? Terlukis dua orang, lelaki dan perempuan yang duduk saling membelakangi, dengan langit penuh bintang, dan sebuah tarikan panjang kuas yang kamu gunakan yang kamu sebut itu adalah bintang jatuh? Ingatkah kamu hal kecil ini?
"Baguskan? Ini aku sama kamu di bukit bintang" Katamu sambil menyodorkan selembar kertas dengan gambar yang kamu lukis sendiri.
"Iya deh yang suka ngelukis. Bagus kok. So sweet" Kataku, merampas gambaranmu. "Buat aku ya" Pintaku dan kamu mengangguk mengiyakan.
"Aku cuma mau kamu ingat terus sama aku, sama bintang-bintang yang bersinar, sama harapan kita waktu bintang jatuh, sayang aku sama kamu" Aku mengangguk. Aku akan mengingatnya. Mengingat segala hal tentang kamu, hingga bagian paling sederhana sekalipun.
"Tentu saja aku akan selalu mengingatmu" Aku merogoh tas tangan warna cokelat muda. Aku mengambil sebuah kotak kecil dari kain kusuh warna hijau tosca. "Aku ada sesuatu buat kamu" Aku membuka kotak kecil itu. Menarik sebuah benda dari dalamnya, meraih jemarimu, dan memasangkan benda melingkar kecil dengan aksen sebuah bintang dan huruf A pada jari manis tangan kirimu.
Kamu mengambil benda kecil yang sama dari dalam kotak yang aku pegang. Melakukan hal yang sama yang sebelumnya telah aku lakukan.
"A untuk Alvin dan A untuk Agni. Untuk bintang yang paling terang" Katamu lalu mengecup keningku. Aku memelukmu, tak ingin melepaskanmu, ingin tetap bersamamu.
Kamu ingat cincin yang aku kenakan ini? Cincin dengan aksen bintang dan huruf sebagai inisial nama kita? Kamu ingat kapan terakhir kalinya memakai cincin ini? Atau kamu telah membuangnya? Apa kamu masih mengingat hal-hal kecil tentang kita seperti aku yang masih mengingatnya?
Dinginnya dini hari semakin memelukku. Kueratkan jaket yang aku kenakan. Dingin, sendiri. Seperti dunia yang tak berpihak untuk melihatku bahagia. Aku tak bisa seperti dulu lagi dimana akan ada orang yang dengan setia mengulurkan tangannya, mengenggam jemariku, memelukku, mengecup keningku. Tak ada lagi aku, kamu, dan cinta. Semua hilang, hilang bersama waktu. Waktu yang ingin aku kembalikan lagi seperti dulu, tapi aku tak pernah bisa. Selamanya.
Aku merogoh saku celana jeans abu-abu yang aku kenakan. Mengambil handphone touch screen milikku, membuka media lalu menekan menu musik. Satu-satunya lagu yang masih setia dari dulu menghiasi handphone kesayanganku ini ku mainkan. Nada pelan yang kembali membuka tabir memori akan dirimu. Ingatkah kamu?
Selama dunia berputar
Cintaku takkan pernah memudar
Padamu oh bintang hidupku
Yang slalu terangi malamku
Dengan gitar klasik yang kamu bilang berasal dari mamamu, kamu memainkan lagu yang sebenarnya adalah lagu wanita itu dengan sempurna. Versi akustikmu menurutku jauh lebih bagus dari versi aslinya. Dengan senyum dingin yang sesekali kamu kembangkan, hatiku terasa bergetar saat melihatnya. Kamu tahu, sekalipun kita sering bersama tapi senyumanmu selalu menggetarkan hatiku.
Selama sang surya bersinar
Cintaku kan slalu berpijar
Padamu kekasih hatiku
Yang slalu hiasi cerita di dalam hidupku
Kamu tahu? Aku merasa menjadi wanita paling beruntung karena memilikimu. Munafik jika aku bilang bukan karena kesempurnaanmu, tapi bukan itu yang terpenting bagiku. Karena yang paling utama adalah hatimu yang kamu berikan sepenuhnya untukku.
Kamu, aku, satu slalu
Kamu, aku, satu
Selamanya sampai diakhir waktu
Kamu, aku, satu. Aku harap, dari lagu itu bukan hanya menjadi sekedar harapan. Tapi sebuah kenyataan paling indah untuk kita di masanya. Nanti. Semoga.
Segalanya takkan mungkin terjadi
Dirimu kan slalu lindungi
Oh agungnya cinta kita berdua
Tuk Slalu selamanya bersama dalam hidup ini
Kamu kembali mengembangkan senyumanmu. Senyuman dingin yang tipis. Tahukah kamu bahwa aku bahagia karena sering melihat senyumanmu itu? Kamu tahu aku beruntung? Semoga kamu seberuntung itu karena memilikiku.
Kamu, aku, satu slalu
Kamu, aku, cinta
Selamanya sampai diakhir waktu
Kamu, aku, selamanya satu
Kamu, aku, selamanya cinta
Selamanya sampai diakhir waktu
Selamanya sampai diakhir waktu
(Kamu, Aku, Cinta - Lala Karmela)
Sampai nanti, semoga ada kisah kita. Kisah tentang aku dan kamu. Tentang cinta kita. Kamu, aku, cinta...
Aku melenguh panjang. Sampai kapan aku terus begini? Terus berada dalam cinta yang tak lagi ada, lebih tepatnya cinta yang telah mati. Bukan dihatiku tapi hatimu. Kenapa aku masih mengharapkan kamu yang jelas-jelas kemungkinan mengingat semuanya pun sangat kecil atau bahkan tidak mungkin. Aku memang menyayangimu, tapi kamu? Kemana kamu, aku, dan cinta kita? Kemana semua harapan kita? Kenapa semuanya serba tak mungkin...
Bahkan waktu yang tiba-tiba merengutmu, aku sampai saat ini belum percaya. Karena, walaupun kamu ada tapi seluruh jiwamu telah mati. Mati bersama seluruh cinta yang dulu indah, dan aku harus merelakan kamu bersama dia. Cinta masa lalumu. Tapi salahkah aku yang masih berharap, kamu setidaknya masih mengingat aku? Karena hanya dalam hatiku, aku mampu mengucapkan semua harapanku. Termasuk, untuk kesembuhanmu yang tak lagi mungkin.
Untuk hal kali ini, walaupun hal besar tapi aku yakin bahwa kamu sangat tidak mengingatnya. Bahkan kamu memang tidak dipaksa untuk mengingatnya. Semuanya pasrah, tapi tetap berharap. Berharap akan sebuah hal yang tak lagi mungkin...
'Tunggu aku bentar lagi ya, aku masih di jalan soalnya' Katamu via telpon saat itu. Aku melirik arlogi merah yang melingkar manis pada pergelangan tangan kiriku. Sudah 15 menit yang lalu sebenarnya waktu yang kamu janjikan untuk bertemu di Cafe Real ini. Bahkan mocha yang ada di hadapanku tinggal separuh.
'Iya ngga papa. Hati-hati' Kataku. Aku masih menunggu. Bahkan hingga sejam kemudian. Telah ada 2 cangkir mocha di hadapanku. Tapi kemana kamu? Aku mencoba mengirimkan pesan singkat padamu tapi semua tak terkirim. Mencoba menelpon, tapi tak aktif. Kamu tahu, bahwa saat itu segala hal negatif tentangmu tiba-tiba saja muncul dalam benakku. Apakah kamu baik-baik saja?
Lalu handphoneku bergetar. Bukan panggilan dari kamu, tapi dari kakakmu. Aku semakin takut, entah mengapa...
'Ya kak'
'Alvin kecelakaan, sekarang kamu mendingan ke Rumah Sakit Kartika' Kata kakakmu waktu itu yang langsung membuatku sakit. Kenapa dugaanku benar? Kenapa harus kecelakaan.
Aku bergegas menuju rumah sakit, bertanya pada reseptionist dimana ruanganmu. Di lorong rumah sakit tempat kamu dirawat, semuanya begitu sepi. Bahkan di depan kamarmu, dimana ada mama dan kakak lelakimu, tak ada tangisan yang berarti. Lalu haruskah aku menangis?
"Tante" Mamamu memelukku. Membelai rambutku yang tergerai.
"Alvin baik-baik saja" Aku menghela nafas lega. Syukur kamu baik-baik saja. Tapi ucapan mamamu, kenapa menggantung menurutku?
"Dia amnesia" Begitu kakakmu menyebut penyakit apa yang kamu derita, mamamu terduduk di bangku panjang dan menangis. Aku tak percaya. Satu-satunya yang aku tanyakan adalah apa kamu mengingat aku?
"Dia hanya bisa mengingat hal-hal kecil di masa lalunya" Lanjut kakakmu.
Bersamaan dengan seorang dokter muda dengan name tag Mario keluar dari ruanganmu "Alvin sudah sadar, tapi saya mohon jangan ingatkan dia tentang kehidupannya. Terlebih memaksa dia untuk mengingat. Kecuali jika kalian memang ingin memperparah keadaan Alvin. Saya permisi, jika ada apa-apa, silakan panggil saya atau perawat" Dokter Mario beranjak diikuti dua orang perawat dibelakangnya.
Aku, mamamu, dan kakakmu masuk ke dalam ruangan bernuansa putih, kamar rawatmu. Kamu memang telah sadar dan tampak baik-baik saja. Tapi ketakutan menghampiriku, ingatkah kamu padaku?
"Mama sama kak Cakka bawa siapa?" Kalimat itu yang pertama kali kamu ucapkan. Kamu tahu? Itu membuatku hancur. Kamu memang tak mengingatku, atau memang bercanda seperti yang sering kamu lakukan?
"Kamu tidak ingat? Ini Agni, teman kakak" Kata kakakmu, berbohong. Kamu hanya menggeleng.
"Maaf" Katamu dan aku hanya mengangguk. Tak apa, mungkin waktu yang akan menyadarkanmu untuk mengingatku kembali.
"Loh ma, Shilla mana? Dia tahu kalau aku sakit kan? Masa pacarnya sakit dia engga ada sih" Saat kamu mengatakan itu, hatiku sangat sakit. Bagaimana tidak? Kamu mengatakan bahwa Shilla itu pacarmu, tapi itu setahun yang lalu sebelum Shilla memilih berselingkuh dengan Gabriel dan akhirnya kamu memutuskannya.
Aku berlari keluar, aku tak mau lagi mendengar kenyataan yang jauh lebih sakit lagi dari ini.
Kamu tahu, hal yang lebih menyakitkan dari ini adalah saat kamu dan Shilla berpacaran lagi. Kamu tahu, itu sakit sekali. Apalagi, tatapan Shilla yang selalu mengejek jika bertemu denganku. Kamu tahu juga, bahwa Shilla sering ingin merebutmu dariku tapi tak pernah bisa karena kamu lebih memilihku, tapi sekarang Shilla mendapatkanmu dengan cara seperti ini. Kamu tahu, aku sangat kecewa dengan keputusan Tuhan untuk hidupmu.
Dalam sebuah film yang pernah aku tonton mengatakan bahwa kesedihan dan kebahagiaan itu datangnya satu paket. Tapi mana kebahagiaan yang aku terima? Apakah kesembuhanmu? Aku tak bisa mengatakan sepenuhnya itu adalah kebahagiaanku, tak bisa.
Aku merasakan embun yang kian membasahi. Jaket merah marun yang aku minta darimu pun telah basah. Dingin yang semakin menyusup tak membuatku beranjak. Bahkan, aku menangis. Menangis karenamu. Ingatkah kamu bahwa kamu pernah menghapus air mataku dengan jari-jarimu? Pernahkah sempat terlintas dalam bayanganmu bahwa, aku menangisimu? Ahhh... Bahkan kamu tak ingat siapa aku. Tapi... Seperti inikah orang amnesia? Sepenuhnya melupakan hal-hal yang memang terlupakan? Tidakkah ada hal kecil yang menyusup dalam hatimu dan sedikit terasa bahwa kamu mengalaminya? Atau, semua memang harus terlupakan?
Aku tak tahu lagi. Hatiku sakit mengingatmu. Tapi dengan mengingatmu, aku ingat saat dimana aku memang merasa bahagia dengan akhir yang tidak aku harapkan. Lalu sekarang aku harus apa? Merelakanmu? Melupakanmu? Membunuhmu dari pikiranku? Aku terlalu menyayangimu untuk melakukan itu. Aku tak bisa. Entah sampai kapan.
Aku menatap langit. Gesekan kecil yang menimbulkan cahaya sedikit terang terpeta jelas dalam pandanganku. Aku menutup mata. Tuhan, jika dia memang tercipta untukku hadirkanlah dia kembali dalam hidupku, jika dia bukan untukku ijinkan dia mengingat aku dan aku akan melepaskannya untuk orang yang dia sayang, agar dia bahagia bersama pilihannya.
Aku membuka mataku. Menghapus air mata yang tergenang dalam pelupuk mataku. Aku mengambil nafas panjang. Dingin, lebih dingin lagi. Aku berdiri, memasukkan kedua tanganku dalam saku jaket.
"Ngelihat hamparan bintang itu ngga enak kalau sendiri" Kamu duduk di sampingku, di bangku kayu panjang taman kota.
"Nggak ada yang suka bintang kaya aku" Jawabku sambil menoleh ke arahmu, memperhatikan lekukan wajah tampan milikmu.
"Aku suka bintang. Menurutku malam nggak akan indah tanpa hamparan bintang yang tak beraturan. Bulan akan kesepian tanpa bintang. Dan tak akan ada harapan jika tak ada bintang jatuh" Katamu diplomatis. Aku tersenyum kecil.
"Bintang tak akan beranjak dari malam dan siang, akan tetap pada tempatnya hanya saja bintang sering memberikan tempatnya untuk yang lain agar bisa menyapa dunia" Balasku.
"Aku Alvin" Kamu menyodorkan tangan kananmu.
"Agni" Membalas sodoran tanganmu.
Ingat? Pertemuan kita bertemu, bukan di bukit ini memang tapi di taman kota pertengahan bulan di bulan yang kering 6 bulan yang lalu, Juni.
"Di bawah hamparan bintang, aku cuma pengen bilang kalau aku sayang kamu" Katamu padaku malam itu, di bulan ke tujuh, Juli.
"Aku juga sayang kamu" Kataku.
Di bulan Juli itu, kita berpacaran. Ingat? Dan di bulan ini Desember semuanya harus aku akhiri. Bukan keinginanku, tapi keinginan waktu yang kurasa tak mengijinkan kita untuk bersatu.
Ahhh, sudahlah aku tak ingin memaksakan kamu lagi untuk mengingat semua ini. Aku percaya bahwa ini akan jadi yang terbaik buat kamu. Apapun yang terjadi, yang sudah, sedang, dan akan, kupercayakan semua ini pada Tuhan, sepenuhnya.
Aku duduk kembali. Mengambil selembar kertas dan pulpen dari dalam tas tanganku. Aku menghela nafas...
Aku bukan lagi bintang
Tak ada sinar yang lagi menyinariku
Tak ada dunia yang menerimaku
Tak ada lagi tempat untukku berdiam
Namun ada bintang lain
Dengan sinar yang terus berpijar
Dengan dunia yang menerimanya
Dengan tempat yang luas untuknya
Aku sekarang hanyalah bintang jatuh
Yang tak akan mengangkasa lagi
Yang tak akan berharap mengudara kembali
Yang akan menerima tempatku yang baru
Aku tak akan memaksa sinar memberiku cahaya
Tak akan meminta dunia menerimaku kembali
Tak akan memohon untuk kembali lagi
Aku akan tetap menjadi bintang, bintang jatuh
Tapi percayalah
Aku akan ada dalam hatimu
Karena aku terjatuh dalam hatimu
Akulah bintang hati
(Bintang Hati)
Aku mengambil kotak kecil dari dalam tas tanganku. Membuka kotak kecil berwarna cokela tua itu. Memasukkan lukisanmu, puisi asal yang baru saja kubuat, dan cincin beraksen bintang dengan huruf A. Aku memasukkan kembali kotak itu dalam tas tanganku. Tenang saja, aku tak akan membuangnya. Aku hanya akan menyimpannya dan menguburnya.
Aku berdiri, melangkahkan kaki menuruni bukit. Kulirik arlogi merah pada pergelangan tanganku 03.19. Sudah pagi ternyata. Dingin yang semakin memelukku memaksaku untuk cepat beranjak. Aku menatap langit dahulu sebelum masuk dalam Picanto hitamku. Aku tersenyum.
^^
"Bintang yang lebih terang dari semua bintang, yang selalu bersinar dan tak pernah padam sekalipun mentari mengantikan bulan, bintang itu adalah kamu. Aku akan menjaga sinarmu agar tetap terang. Aku sayang kamu" Kamu memelukku dari belakang, satu tangan melingkar di perutku dan satu tangan yang lain menyentuh kepalaku.
"Aku sayang kamu" Kataku.
Yang aku tahu, Tuhan mengabulkan permintaanku.
Kau jadikan aku ini
Wanita yang kau pilih
Untuk jadi kekasihmu
Dan kau pun tlah aku minta
Setia sepertiku
Hingga waktunya tiba
(Wanita yang Kau Pilih - Rossa)
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar