Senin, 17 Desember 2012

Untitled


Mungkin sudah ada setengah jam lamanya aku terus berkutat di depan layar laptopku. Mataku terus tertuju pada barisan tulisan yang tersusun rapi di layar dan jemariku menari lincah mengetik kalimat-kalimat untuk melanjutkan tugas makalah yang sedang aku kerjakan.



Namun, semakin lama aku merasa apa yang aku tuliskan semakin tidak karuan. Padahal aku ingat persis bahwa tema makalah yang harus aku buat adalah hubungan luar negeri Indonesia pasca-reformasi. Tapi apa yang aku tuliskan rasanya sudah keluar jalur. Aku tidak lagi fokus dengan beberapa file bahan pembuatan makalah yang aku download kemarin maupun dua buah buku sumber yang terbuka halamannya yang berada di samping laptopku sekarang. Ya, aku memang tidak fokus, bahkan sejak awal aku duduk berhadapan dengan laptop setengah jam yang lalu.



Aku memang tidak berniat mengerjakan makalah ini. Setidaknya tidak untuk saat ini. Sekalipun deadline mengumpulkan tugas individu pelajaran Kewarganegaraan itu adalah besok sebelum jam dua belas tepat. Kau tahu, aku hanya ingin menyibukkan diriku sementara kau pun sibuk dengan urusanmu sendiri.



”Masih lama ya, Fy?” Kau bertanya dan dari nada bicaramu aku tahu kau berharap aku menjawab pertanyaan itu dengan kata tidak.



”Masih,” jawabku pendek tanpa sedikit pun menoleh ke arahmu. Aku hanya ingin membuatmu menyadari bahwa aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang kaukerjakan saat ini. Aku tidak mau peduli. Aku tidak peduli karena aku tidak menyukainya.



Aku bisa mendengarmu menghembuskan napas panjang. Aku tahu kau mungkin kelelahan. Semalam kau pulang larut karena sebuah acara perpisahan dengan teman-teman sekolahmu. Dan pagi ini kau sudah harus terjaga lebih awal karena kau belum menyiapkan apa-apa untuk kepergianmu siang nanti. Jika saja ada mama di rumah, pasti ia sudah sibuk membantumu berkemas.



Aku melirik ke arah pintu kamarmu yang terbuka lebar. Aku bisa melihatmu duduk di atas tempat tidurmu dan sibuk memasukkan pakaian-pakaianmu ke dalam sebuah tas besar. Entah bagaimana caranya kau bisa tahu, tapi kau lalu menoleh ke arahku. Membuatku sedikit tersentak karena kedapatan sedang memerhatikan kesibukanmu.



”Katanya sibuk... ngapain lo ngeliatin?” tanyamu kemudian.



”Ngg ... siapa juga yang ngeliatin!” jawabku dengan agak tergagap.



Kau lantas memandangku dengan heran tapi detik berikutnya kau kembali beralih dengan pakaian-pakaian yang harus segera kaukemasi itu.



Aku menghela napas. Aku tahu ini aneh tapi ... kenapa aku tidak suka melihatmu berkemas?



Rasanya baru kemarin saat kau datang. Sabtu pagi itu matahari baru muncul saat terdengar suara bel rumahku berbunyi pertanda seseorang berada di luar pagar dan menunggu pagar dibuka. Orang itu adalah kau, kak Rio. Aku sudah tahu bahwa kau adalah kak Rio, Mario Stevano Aditya, saat aku membukakan pintu pagar untukmu meskipun saat itu kau belum memerkenalkan diri. Mario Stevano Aditya, laki-laki yang papa bilang akan tinggal menumpang di rumah kami. Kau adalah anak dari teman baik papa semasa kuliah dulu. Dari cerita yang aku dengar dari papa, orang tuamu harus tinggal di Belanda selama beberapa bulan, mungkin setengah tahun. Mereka kemudian menitipkanmu –anak semata wayang mereka– pada keluarga kami karena mereka khawatir jika meninggalkanmu sendiri di rumah tanpa pengawasan.



Kau kemudian berjalan mengiringiku masuk ke dalam rumah sambil menenteng dua buah koper besar. Kedatanganmu lalu disambut dengan antusias oleh papa-mamaku. Mereka kemudian menanyakan banyak hal padamu, tentang sekolahmu dan sebagainya. Sementara itu aku yang langsung saja diperintahkan mama untuk membuatkanmu teh, terus saja meracau tak jelas sendiri di dapur. Menurutku respon kedua orang tuaku berlebihan. Bahkan sejak dua hari yang lalu mama sudah sibuk menyiapkan kamar yang nantinya akan kaupakai.



Aku tidak suka kedatanganmu. Hei! Jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Kau datang terlalu pagi untuk mengacaukan weekend-ku saat itu.



Hal selanjutnya yang membuatku tidak menyukaimu adalah melihat bagaimana ekspresimu saat aku mengantarkanmu ke kamar yang akan kauhuni selama tinggal di rumahku. Aku tidak peduli sebagus apa pun rumahmu tapi kau menumpang di rumahku. Suka tidak suka kau harus menerima apa pun yang kami miliki, termasuk kamar yang telah disiapkan untukmu. Mungkin kecil menurutmu, tapi itu bahkan sudah lebih besar dari kamar yang aku tempati.



”Daripada bengong, mendingan lo bantuin gua deh!” Kau tiba-tba saja berujar dari dalam kamarmu, membuatku terhenyak.



”Siapa juga yang lagi bengong, orang gua lagi mikir,” sungutku.



”Mikirin gua kan?” tanyamu dengan intonasi meledek.



Aku tahu kau benar. Tapi tentu saja aku tidak mau membenarkan perkataanmu itu.



”Ngapain juga gua mikirin lo? Udah deh, lo kalo mau pergi, pergi aja!” sahutku kemudian.



Aku lalu membuang pandanganku ke arah salah satu buku yang sejak kubuka halamannya belasan menit lalu, kuacuhkan begitu saja. Aku meraih buku itu, sekadar untuk membuatmu percaya bahwa aku tengah sibuk dengan tugas sekolahku.



”Yakin nih nggak apa-apa kalo gua pergi?” Kau kembali menggodaku. Aku tahu kau sedang mulai mengajakku bercanda. Tapi sayangnya saat ini aku sedang benar-benar tidak berminat untuk itu.



”Ya nggak apa-apa lah! Emangnya kenapa juga kalo lo pergi?” Aku membalas pertanyaanmu dengan begitu sinis.



Menyadari hal itu, kau berjalan menghampiriku dan meninggalkan urusanmu dengan barang-barang yang sedang kaukemasi. Kau lalu bertanya, ” kenapa sih lo kok sinis banget gitu, Fy, sama gua?”



Kau kemudian duduk di atas sofa yang ada di belakangku yang duduk bersila di lantai menghadap laptop.



”Gua biasa aja kok!” tukasku menyangkal kata-katanya tadi. ”Udah deh, lo nggak usah gangguin gua!” hardikku kemudian untuk mengusirmu pergi dari dekatku.



Mengusirmu pergi meskipun dalam hati aku tidak ingin melakukan itu. Aku tidak ingin kaupergi. Benar-benar tidak ingin.



Nyatanya kalimatku barusan tidak membuatmu berpindah sejengkal pun dari posisimu di belakangku. Aku tahu kau masih di sana dan mungkin kau sedang berpikir ada apa denganku.



Hening kemudian. Hanya suara halus jari-jariku yang sedang mengetik yang memenuhi ruang dengar kita. Aku tidak tahu apa yang sedang kaulakukan dalam diammu. Apa kau sedang memikirkanku? Kuharap begitu. Kuharap kau memikirkanku. Dan juga memikirkan perasaanku.



”Maafin gua ya, Fy,” tiba-tiba saja kau mencetuskan kata maaf.



Aku tersentak mendengar kata-katamu. Maaf? Kau sadar bahwa kau sudah melakukan kesalahan?



”Gua tahu selama ini gua udah nyebelin banget, bahkan dari awal kedatangan gua di rumah ini. Maafin gua karena udah sering gangguin lo, sering bikin lo badmood. Maaf juga gua sering banget muncul tiba-tiba di kamar lo.”



Kau lalu tertawa sendiri setelah menyelesaikan kalimat-kalimatmu itu. Kau pasti teringat dengan semua tingkah menyebalkanmu itu, kan? Baguslah kalau kau mengingatnya.



Sementara itu aku masih berpura-pura tenggelam dalam tugas makalah yang sedang kukerjakan. Masih berpura-pura acuh dan tak peduli walaupun sebenarnya aku menyimak semua penuturanmu tadi. Pikiranku mau tidak mau membawaku ke saat-saat yang kausebutkan tadi. Saat kau menggangguku dengan serangkaian tingkahmu yang tidak penting. Saat kau berhasil membuatku kehilangan mood bagus karena kau merusak apa pun rencana menyenangkan yang telah kususun. Aku juga teringat bagaimana kau muncul dengan tiba-tiba di dalam kamarku, mengagetkanku dan membuatku terbangun pagi dengan teriakanmu tepat di telingaku.



Aku mengingat semua itu, kak Rio. Aku mengingat semuanya. Tak satu pun waktu kebersamaan kita yang terlewat dari ingatanku. Aku mengingat setiap detail bagaimana kau mulai masuk ke dalam hidupku juga ke dalam hatiku.



”Dan sekarang saatnya gua pergi. Gua tahu, Fy, lo pasti girang banget deh gua pergi dari rumah ini. Nggak akan ada yang gangguin lo lagi. Ya, lo bisa tenang sekarang.” Kau kembali membuka mulutmu, membuatku kembali dari lamunanku ke detik-detik menjelang kepergianmu ini.



”Sekali lagi maaf, ya, Fy!”



”Thanks banget buat semuanya selama ini.”



Aku kemudian dapat merasakan gerakan tangan kananmu menyentuh puncak kepalaku dan sedikit mengacak rambutku. Aku masih diam tak bersuara, masih saja berpura-pura larut dalam tugasku. Tapi kau pasti tidak tahu bahwa air mataku sudah mulai menitik sejak tadi, sejak pikiranku melayang-layang ke masa-masa kebersamaanku denganmu.



Sekarang, air mataku terus meleleh dan turun deras melewati pipiku.



Aku beranjak dari dudukku. Tanpa sedikit pun menoleh ke belakang –ke arahmu–, aku langsung menghamburkan diri ke dalam kamarku yang terletak tepat di samping kamar yang sebentar lagi akan kautinggalkan.



Aku bisa mendengarmu menyerukan namaku. Kau pasti bingung melihat sikap anehku barusan. Aku tak peduli meskipun kudengar kau memanggilku beberapa kali. Dengan satu gerakan yang agak kasar, aku menutup pintu kamarku setelah aku memasukinya. Terdengar suara gebrakan pintu yang cukup keras saat pintu kamarku benar-benar tertutup rapat.



Aku terduduk di balik pintu. Bulir-bulir air mata terus saja berjatuhan tanpa bisa kucegah. Aku terus berusaha menghapus jejaknya di pipiku dengan kedua telapak tanganku tapi ternyata percuma saja. Kesedihan tetap saja menguasaiku.



Di sela tangisku yang belum juga mereda, kudengar suara lembutmu memanggilku dari balik pintu. Kau mengetuk pintu itu dengan perlahan sambil berkata, ”Fy, lo kenapa?”.



Aku harus menjawab apa? Apa aku harus mengatakan bahwa aku tidak suka semua kata-katamu tadi? Aku tidak suka permintaan maafmu. Aku tidak suka mendengar ucapan terima kasihmu. Aku tidak suka saat kau berkata bahwa aku akan sangat senang dengan kepergianmu. Aku tidak suka dengan semua itu karena kau membuatnya terkesan seperti sebuah perpisahan.



Perpisahan. Kenapa harus ada kata itu diantara kau dan aku?



”Kenapa lo harus pergi sih, Kak?”



Hanya kalimat tanya itu yang dapat kulontarkan untuk membalas tanyamu tadi. Itu sudah cukup kan untuk membuatmu mengerti apa yang terjadi denganku saat ini?



Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan diriku.



Kau diam. Aku rasa kau sudah mulai mengerti apa yang kumaksudkan.



”Ify, maaf.” Kau kembali menukaskan permintaan maafmu. Tahukah kau bahwa aku tidak menyukai kata maafmu itu?



Dulu aku memang selalu menantikan kata maaf terujar dari mulutmu. Itu dulu, saat aku masih menganggapmu sebagai makhluk asing pengganggu dengan kadar menyebalkan paling tinggi yang pernah kutemui. Tapi sekarang aku sudah terlanjur terbiasa dengan gangguanmu. Aku sudah terbiasa dengan tingkah menyebalkanmu. Aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu yang sebelumnya tidak kusukai di rumahku.



Kau memang menyebalkan. Sangat. Tapi aku sudah terlanjur terbiasa denganmu. Sekarang aku tak bisa membayangkan bagaimana aku tanpamu lagi di rumahku. Kepergianmu hanya akan membuatku merasa kehilangan, sebuah perasaan yang paling tidak ingin aku rasakan lagi. Sudah cukup sakitnya kehilangan yang kurasakan karena kepergian kak Angel dalam sebuah kecelakaan tahun lalu.



Aku tidak ingin kehilangan seseorang yang kusayangi lagi. Aku tidak ingin kehilanganmu karena aku sudah mulai menyayangimu, Kak. Kau menyebalkan tapi entah bagaimana saat berada di dekatmu aku merasa menjadi seorang adik lagi setelah kehilangan kakak tunggalku itu. Aku merasa memiliki seorang kakak lagi karena kehadiranmu.



”Fy, lo kan tahu, gua udah susah payah sampai akhirnya bisa keterima kuliah di sana. Nggak mungkin lah gua lepasin gitu aja. Tolong ngerti ya, Fy,” tambahmu setelah tak juga kaudengar aku merespon kata-katamu sebelumnya.



Aku masih diam tapi aku masih tetap di balik pintu itu, mendengarkanmu sambil berusaha menghentikan tangisku. Aku jadi teringat saat pertama kau membuatku menangis dulu. Saat itu kau dengan sengaja meletakkan seekor kecoa, binatang paling menjijikkan menurutku, di atas meja belajarku. Kau benar-benar menyebalkan tapi kemudian kau berjanji padaku takkan pernah membuatku menangis lagi. Kau bilang wajahku terlihat sangat jelek saat menangis.



Sekarang kau tahu kan bahwa kau sudah mengingkari janjimu itu?



Kau tidak berkata-kata lagi. Diam. Tapi aku yakin kau masih berada di balik pintu kamarku. Kaubiarkan hening berkuasa. Aku pun diam. Tak terdengar lagi isakanku.



Menit-menit berlalu. Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu yang kita lewatkan. Aku lalu memutuskan untuk beranjak bangun dari dudukku. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum meraih gagang pintu dan membuka pintu tersebut.



Kudapati kau berdiri tepat di hadapanku setelah pintu mengayun terbuka. Detik berikutnya aku sudah berada di pelukanmu kemudian aku berkata, ”hati-hati di jalan ya, Kak! Lo harus sering ngabarin gua kalo udah di sana. Jangan pernah lupain gua.”



Kau lalu melepaskan pelukanku. ”Gua janji nggak akan lupain lo,” balasmu disertai ulasan senyummu yang sangat manis.

*****



Satu tahun bukan waktu yang singkat, kan?



Di hari itu, hari kepergianmu untuk meneruskan studi ke Aussie, setengah hatiku masih berharap kauurungkan niatmu meninggalkanku saat itu. Setengah sisanya mengajakku untuk berusaha memahamimu. Memahami mimpimu. Memahami apa yang ingin kauraih untuk masa depanmu. Hingga akhirnya, walaupun rasanya berat sekali, aku membiarkan jarak ribuan kilometer membentang memisahkan kau dan aku.



Mulai saat itu, aku belajar tentang bagaimana menyanyangi seseorang. Kepergianmu membuatku mengerti bahwa menyayangi seseorang berarti bahagia melihat orang yang kita sayangi meraih mimpinya. Menyayangi seseorang berarti membiarkan ia mengepakkan sayap kebebasannya dan terbang menuju tempat impiannya. Kita tak bisa memaksakan takdir membuatnya terus berada di samping kita.



Kau tahu, Kak? Aku sangat senang karena kau menepati janjimu sesaat sebelum keberangkatanmu waktu itu. Janjimu untuk tidak akan pernah melupakanku. Dulu aku begitu takut akan merasakan lagi perasaan kehilangan yang begitu kubenci. Tapi hebatnya, kau membuatku tidak pernah merasa sendirian walaupun jelas-jelas kau tak lagi ada di sampingku. Kini aku tahu, hilangnya seseorang dari pandangan kita bukanlah masalah selama kita tidak menghilangkan orang itu dari hati kita.



Kau selalu ada dan menemaniku, Kak Rio. Selalu di hatiku.



Aku tersenyum sendiri melihat sepasang sepatu yang berada di rak penyimpanan sepatuku. Kuraih sepatu dengan warna merah –warna kesukaanku– yang mendominasi itu. Di bagian depan sepatu sebelah kanan tertulis kata ”Ify” sedangkan yang sebelah kiri tertulis kata ”bawel”. Itu sepatu yang kaulukis untukku. Itu adalah hadiah pemberian darimu saat ulang tahunku yang ke enam belas. Selain dua kata tadi dan gambar wajah semacam karikaturku yang kautoreh di atas sepatu yang awalnya polos itu, kau juga menggambarkan beberapa bintang berwarna kuning keemasan. Ya, kita memang suka melihat bintang bersama saat kita sama-sama mengalami insomnia tengah malam.



Suara bel rumah membuatku meletakkan kembali sepatu yang ada di tanganku. Seseorang berada di luar pagar dan menunggu pintu rumahku terbuka untuknya. Aku melirik jam dinding yang menggantung di dinding sebelah kiriku. Baru jam setengah tujuh pagi. Aku tersentak. Sepagi inikah? Masih terlalu pagi bukannya untuk bertamu?



Aku bergegas menuju luar rumah untuk segera tahu siapa pemencet bel tadi. Aku tidak langsung membuka pagar rumahku begitu melihat sosok yang tampak di balik pagar itu.



”Maaf, anda cari siapa ya?” tanyaku pada orang itu.



Orang berperawakan tinggi dan agak kurus dengan tas ransel di pundak kanannya itu menaikkan sebelah alisnya kemudian ia menjawab, ”oh, maaf, sepertinya saya salah alamat. Maaf, sudah mengganggu!”



Orang itu kemudian menarik kopernya, berbalik lalu melangkah pergi.



”Kak Rio....”



Kau pun berbalik. Kau melipat kedua tanganmu di depan dada sambil tersenyum nakal.



”Emang kita kenal ya?” tanyamu kemudian.



Aku langsung memasang wajah cemberut. ”Gitu ya... udah lupa nih sama gua?”



Kemudian kau tertawa. Senang sekali rasanya bisa melihatmu tertawa lagi.



Aku lalu membukakan pagar untukmu. Kau langsung melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah begitu pagar terbuka. Kau terus berjalan masuk tanpa mengindahkanku. Aku masih berdiri di luar rumah ketika kau sudah sampai di ruang tamu. Aku memandangi figurmu yang sudah sangat kuhafal setiap detailnya dari belakang. ”Kak Rio!” panggilku kemudian.



Kau membalikkan tubuhmu, tepat menghadap ke arahku dan menungguku bicara lagi.



”Gue sayang sama lo!”

*****

0 komentar:

Posting Komentar

By :
Free Blog Templates